Rabu, 20 Mei 2026

Bahlil Bidik Hilirisasi Timah, Ekspor Mentah Bakal Dibatasi

Ke depan, Bahlil akan mengkaji larangan ekspor beberapa komoditas lainnya, termasuk timah, guna memperkuat perekonomian nasional.

Tayang:
Editor: Content Writer
dok. Kementerian ESDM
STRATEGI MENDORONG HILIRISASI - Saat menghadiri Indonesia Economic Outlook di Jakarta pada Jumat (13/2), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memaparkan potensi hilirisasi yang dipandang sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional. 

TRIBUNNEWS.COM - Program hilirisasi menjadi salah satu program prioritas Pemerintahan Presiden Prabowo untuk mendorong transformasi ekonomi Indonesia. 

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp618 triliun. 

Proyek-proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis dan ditargetkan mulai berjalan pada tahun ini, termasuk hilirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batubara, hingga kilang minyak.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, pun sepakat dan memandang hilirisasi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional. 

Bahlil mencontohkan pelarangan ekspor bijih nikel pada tahun 2018-2019, berbuah manis dengan total ekspor nikel mencapai 10 kali lipatnya pada periode 2023-2024.

"Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya USD3,3 miliar. Begitu kita melarang ekspor, total ekspor kita di tahun 2024 sudah mencapai USD34 miliar. 10 kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun. Inilah kemudian yang menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata, menciptakan lapangan pekerjaan," ujar Bahlil saat menghadiri Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat (13/2).

Baca juga: Menteri ESDM Sebut Hilirisasi Kunci Negara Berkembang Jadi Maju

Genjot Ekspor Hasil Industri Hilirisasi

Ke depan, Bahlil akan mengkaji larangan ekspor beberapa komoditas lainnya, termasuk timah. Menurutnya, ekspor barang mentah harus digantikan dengan komoditas hasil industri hilirisasi dalam negeri demi memperkuat posisi ekonomi Indonesia.

"Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Dan tahun ke depan, kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah. Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," sambung Bahlil.

Produk hasil hilirisasi ini ditargetkan menjadi barang yang dapat menggantikan barang-barang impor dari luar negeri. Bahlil pun mengundang investor nasional, termasuk sektor perbankan, untuk masuk menyuntikkan dananya pada proyek strategis nasional ini.

"Semua produknya adalah untuk melahirkan substitusi impor. Ini captive market dalam negeri. Nah ini kesempatan perbankan untuk membiayai. Jangan sampai kalian tidak biayai lagi, nanti dikira hilirisasi itu hanya nilai tambahnya dikuasai oleh teman-teman kita dari luar negeri," pungkasnya.

Hingga 2040 mendatang, program hilirisasi di berbagai sektor diprediksi akan mendatangkan investasi hingga USD 618 miliar. Dari jumlah itu, USD 498,4 miliar datang dari subsektor mineral dan batubara (minerba) dan USD 68,3 miliar dari minyak dan gas bumi.

Hilirisasi juga diproyeksikan mendatangkan ekspor USD 857,9 miliar, pendapatan domestik bruto (PDB) USD 235,9 miliar, hingga lebih dari 3 juta tenaga kerja. (*)

Baca juga: Bahlil Dialog dengan Bos Perusahaan Migas, Dorong Optimalisasi Lifting Migas 2026

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved