Bacaan Doa
Doa Sahur Puasa dan Sunah yang Dianjurkan Rasulullah SAW
Doa sahur puasa dapat dibaca untuk memperoleh berkah dari santapan sahur. Ada sunah sahur yang dicontohkan Rasulullah yang perlu diketahui muslim.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Sahur merupakan salah satu sunah yang dianjurkan bagi muslim yang akan berpuasa setelah fajar.
Ketika sahur, muslim dapat membaca doa sahur agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan bahwa Rasulullah Saw menegaskan ada keberkahan di dalam sahur, salah satunya tercukupinya energi untuk berpuasa.
Nabi Saw. bersabda, “Bersahurlah kalian, karena di dalam sahur ada berkah.” (HR Bukhari, No 1789)
Selain itu, sahur juga merupakan pembeda umat Islam dengan Ahlul Kitab, yaitu umat yang menerima kitab suci sebelum Al-Qur’an, seperti Yahudi yang menerima kitab Taurat dan Nasrani yang menerima Injil.
Dari Amru bin Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Saw) bersabda, “Perbedaan antara puasa kita dengan puasanya Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR Muslim, No 1836)
Adapun doa sahur disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani.
Dari Sa’ib bin Zaid, Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik hidangan sahur adalah kurma.” Lalu beliau bersabda (berdoa): “Semoga Allah merahmati orang-orang yang sahur.” (HR. Thabrani)
Dikutip dari laman Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), berikut bacaan doa sahur puasa.
Doa Sahur Puasa
يَرْحَمُ اللهُ الْمُتَسَحِّرِيْنَ
Yarhamulloohul mutasahhiriin
Artinya: "Semoga Allah merahmati orang-orang yang sahur."
Baca juga: Doa Niat Puasa Qadha Ramadhan, Muslim Wajib Ganti Utang Puasa
اللَّهُمَّ إِنِّي لَكَ صُمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَعَلَىٰ رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ
Allahumma inni laka shumtu wa bika amantu wa ‘alayka tawakkaltu wa ‘ala rizqika afthartu, faghfir li ma qaddamtu wa ma akhkhartu.
Artinya: “Ya Allah, aku berpuasa untuk-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, dan aku berbuka dengan rezeki-Mu. Maka, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang.”
Dalil Tentang Anjuran Sahur
Kelurahan Kemadang di Kabupaten Gunungkidul menjelaskan beberapa dalil Al-Quran dan hadis yang menyebutkan anjuran untuk sahur.
1. QS. Ali Imran Ayat 17
“Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17)
Ayat ini menggambarkan keutamaan waktu sahur sebagai salah satu waktu paling mustajab untuk beribadah, khususnya beristighfar.
Sahur bukan sekadar aktivitas makan sebelum puasa, tetapi juga momen spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa dan permohonan ampun.
2. QS. Adz-Dzariyat Ayat 18
“Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. QS. Adz-Dzariyat: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa waktu sebelum fajar—yang bertepatan dengan waktu sahur—memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi.
Allah SWT memuji hamba-hamba-Nya yang memanfaatkan waktu tersebut untuk beristighfar dan memperbanyak amal kebaikan.
Dalam konteks puasa, sahur menjadi pintu pembuka untuk meraih keutamaan ini. Orang yang bangun sahur berarti telah menempatkan dirinya pada waktu istimewa yang jarang dimanfaatkan banyak orang karena masih terlelap tidur.
3. QS. Al-Baqarah Ayat 187
“…dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Ayat ini menjadi dasar waktu sahur dalam Islam. Allah SWT memperbolehkan umat Islam untuk makan dan minum hingga terbit fajar, yang menandai masuknya waktu Subuh sekaligus dimulainya puasa.
Istilah “benang putih dan benang hitam” adalah perumpamaan yang menggambarkan jelasnya perbedaan antara cahaya fajar dan gelapnya malam.
Ayat ini menunjukkan bahwa sahur bukan hanya dianjurkan, tetapi juga memiliki batas waktu yang tegas, sehingga umat Islam tidak perlu ragu selama fajar belum terbit.
4. Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim
“Bersahurlah kamu sekalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi landasan utama anjuran sahur dalam Islam. Rasulullah SAW secara tegas memerintahkan umatnya untuk tidak meninggalkan sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan yang luas, baik secara fisik maupun spiritual.
Keberkahan sahur mencakup kekuatan tubuh untuk berpuasa, ketenangan batin, serta pahala karena mengikuti sunah Nabi. Karena itu, sahur tidak dipandang sebagai kebiasaan biasa, melainkan bagian dari ibadah puasa itu sendiri.
5. Hadis Riwayat Ahmad
“Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun salah seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat bersalawat atas orang-orang yang bersahur." (HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa sahur tidak harus dengan makanan berat atau mewah. Bahkan seteguk air pun sudah cukup untuk mendapatkan keutamaan sahur, selama diniatkan sebagai ibadah.
Menariknya, hadis ini juga menyebutkan bahwa Allah SWT dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang bersahur. Ini menunjukkan betapa mulianya amalan sahur di sisi Allah, meskipun dilakukan dengan cara yang sangat sederhana.
6. Hadis Riwayat Muslim
“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)
Hadis ini menempatkan sahur sebagai ciri khas dan identitas puasa umat Islam.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sahur menjadi pembeda antara puasa kaum muslimin dan puasa umat terdahulu, seperti Yahudi dan Nasrani.
7. Hadis Riwayat Bukhari
“Aku makan sahur bersama keluargaku, kemudian aku segera bergegas menuju masjid agar aku bisa bersujud (pada rakaat pertama shalat Subuh) bersama Rasulullah SAW.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menggambarkan praktik sahur yang dilakukan para sahabat Nabi.
Mereka makan sahur dalam waktu yang cukup dekat dengan Subuh, namun tetap memungkinkan untuk bersiap menunaikan shalat berjamaah tepat waktu.
Dari hadis ini, para ulama menyimpulkan bahwa mengakhirkan sahur (selama belum masuk waktu fajar) adalah sunah.
Sahur yang dilakukan mendekati Subuh dinilai lebih utama karena menunjukkan ketaatan terhadap tuntunan Rasulullah SAW dan memudahkan menjaga kekuatan saat berpuasa.
8. Hadis Riwayat Abu Dawud, Ibnu Jarir, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan Ahmad
“Apabila seseorang dari kalian mendengar suara adzan sedangkan gelas masih berada di tangannya maka janganlah ia letakkan hingga memenuhi hajatnya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Jarir, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan Ahmad)
Hadis ini menjelaskan kelonggaran dalam sahur bagi umat Islam.
Jika seseorang masih makan atau minum saat adzan Subuh berkumandang—dan ia yakin fajar belum terbit—maka diperbolehkan untuk menyelesaikannya tanpa tergesa-gesa.
Pesan utama hadis ini adalah bahwa Islam memberikan kemudahan dan tidak memberatkan umatnya.
Namun, para ulama juga menekankan pentingnya kehati-hatian, yakni memastikan bahwa yang dimaksud adalah adzan pertama (penanda waktu sahur) atau kondisi di mana fajar belum benar-benar terbit.
Baca juga: Sayyidul Istighfar, Doa Paling Utama yang Membuka Jalan Menuju Surga
Keutamaan Membaca Doa Sahur
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menjelaskan keutamaan bagi muslim yang membaca doa sahur.
1. Mendapatkan Keberkahan dalam Sahur
Nabi Muhammad Saw. menjelaskan bahwa muslim yang sahur sebelum berpuasa akan mendapatkan berkah.
Rasulullah SAW bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Menguatkan Tubuh Selama Berpuasa
Selain manfaat spiritual, membaca doa sahur puasa juga bisa memberikan efek psikologis yang positif.
Sahur akan memberikan energi pada tubuh untuk berpuasa pada esok hari.
3. Merupakan Waktu Mustajab untuk Berdoa
Waktu sahur adalah waktu yang istimewa karena berada di sepertiga malam terakhir.
Allah SWT turun ke langit dunia dan mengabulkan doa-doa hamba-Nya pada sepertiga malam terakhir.
4. Mendapat Ampunan dari Allah SWT
Membaca doa sahur puasa dengan penuh keikhlasan bisa menjadi sarana untuk memperoleh ampunan dari Allah, sebagaiman dijelaskan Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang memohon ampun di waktu sahur, maka Allah akan mengampuninya.” (HR. Ahmad)
5. Meneladani Sunnah Rasulullah SAW
Rasulullah SAW selalu mengakhirkan sahur dan membacakan doa sebelum memulai puasa.
Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Saw dan Zaid bin Tsabit makan sahur bersama. Setelah keduanya selesai makan sahur, beliau lalu bangkit melaksanakan salat. Kami bertanya kepada Anas, “Berapa rentang waktu antara selesainya makan sahur hingga keduanya melaksanakan sholat?” Anas bin Malik menjawab, “Kira-kira waktu seseorang membaca lima puluh ayat.” (HR Bukhari, no 547)
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/DOA-SAHUR-PUASA-346534534.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.