Bacaan Doa
Doa Tahlil Singkat, Mudah Dibaca untuk Mendoakan Orang yang Wafat
Doa tahlil merupakan doa yang mengandung kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Biasanya termasuk dalam rangkaian doa tahlilan untuk orang yang wafat.
Artinya: Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌ
Wa lam yakun lahū kufuwan aḥad
Artinya: Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.
3. Al-Falaq
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ
Qul a‘ụżu birabbil-falaq
Artinya: Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),”
مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
Min syarri mā khalaq
Artinya: dari kejahatan (makhluk) yang Dia ciptakan,
وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
Wa min syarri ghāsiqin iżā waqab
Artinya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّاثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ
Wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad
Artinya: dan dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya),
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad
Artinya: ...dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
4. An-Nas
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ
Qul a‘ụżu birabbin-nās
Artinya: Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.”
مَلِكِ ٱلنَّاسِ
Malikin-nās
Artinya: Raja manusia,
إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ
Ilāhin-nās
Artinya: Sembahan manusia,
مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ
Min syarril-waswāsil-khannās
Artinya: dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,
ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ
Allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās
Artinya: yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ
Minal-jinnati wan-nās
Artinya: ...dari (golongan) jin dan manusia.”
5. Al-Fatihah
6. Al-Baqarah: 1-5
الم
Alif Lām Mīm
Artinya: Alif Lām Mīm.
ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Żālika al-kitābu lā raiba fīh, hudal lil-muttaqīn
Artinya: Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ
Allażīna yu’minụna bil-gaibi wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn
Artinya: (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,
وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
Wallażīna yu’minụna bimā unzila ilaika wa mā unzila min qablika wa bil-ākhirati hum yụqinụn
Artinya: dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan yang diturunkan sebelum kamu, serta mereka yakin akan adanya akhirat.
أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًۭى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
Ūlāika ‘alā hudam mir rabbihim, wa ūlāika humul-mufliḥụn
Artinya: Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
7. Al-Baqarah: 163
وَإِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ
Wa ilāhukum ilāhun wāḥid, lā ilāha illā huwa ar-raḥmānur-raḥīm
Artinya: Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
8. Al-Baqarah: 255 (Ayat Kursi)
اللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌۭ وَلَا نَوْمٌۭ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍۢ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ
Allāhu lā ilāha illā huwa al-ḥayyu al-qayyụm, lā takhużuhụ sinatuw wa lā naụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasfa'u 'indahụ illā biiżnih, ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyaiim min 'ilmihī illā bimā syā, wasi'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-aẓīm
Artinya: Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi, Maha Agung.
9. Al-Baqarah: 284
لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَإِن تُبْدُوا۟ مَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ ٱللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ
Lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa in tubdụ mā fī anfusikum au tukhfụhụ yuhāsibkum bihillāh, fa yaghfiru limaiy-yasāu wa yu'ażżibu mai-yasā, wallāhu 'alā kulli syai`in qadīr
Artinya: Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, Allah pasti akan memperhitungkannya. Maka Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
10. Al-Baqarah: 285
ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍۢ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ
Āmanar-rasụlu bimā unzila ilaihi mir rabbihī wal-muminụn, kullun āmana billāhi wa malāikatihī wa kutubihī wa rusulih, lā nufarriqu baina aḥadim mir rusulih, wa qālụ sami’nā wa aṭa’nā, ghufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr
Artinya: Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat.” Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.
11. Al-Baqarah: 286
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًۭا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَـٰفِرِينَ
Lā yukallifullāhu nafsan illā wus’ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā mak-tasabat, rabbanā lā tu`ākhidnā in nasīnā au akhṭa’nā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣran kamā ḥamaltahụ ‘alallażīna min qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa’fu ‘annā, waghfir lanā, war-ḥamnā, anta maulānā fangṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn
Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”
12. Doa Tahlil
13. Sholawat Nabi
وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ اَصْحَابِ سَيِّدِنَا رَسُوْلِ اللهِ اَجْمَعِيْنَ
Artinya: “Semoga Allah yang maha suci dan tinggi meridhai para sahabat dari pemimpin kami (Rasulullah).”
Makna Doa Tahlil
Kementerian Agama menjelaskan dalil tentang tahlil dapat dipahami dari beberapa sumber utama.
Pertama, dari Al-Qur’an, seperti dalam QS. Al-Hasyr ayat 10 yang menunjukkan bahwa umat Islam dianjurkan mendoakan orang yang telah meninggal.
Ini menjadi dasar bahwa “kiriman doa” kepada mayit, sebagaimana dalam tahlilan, memiliki landasan syariat.
Kedua, dari hadis Nabi yang menjelaskan keutamaan dzikir, seperti bacaan tasbih “Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahil adzim” yang ringan di lisan tetapi berat di timbangan amal.
“Rasulullah SAW bersabda: dua kalimat yang ringan bagi lisan dan berat (timbangan kebaikkannya) di Mizan (timbangan amal akhirat), dan dicintai oleh Dzat yang mempunyai belas kasih adalah kalimat Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil adzim." (HR. Bukhari dalam kitab Akhadits Muhtar Min Al-Shahihain).
Ini menunjukkan bahwa rangkaian bacaan dalam tahlil (tahlil, tasbih, istighfar, dan lainnya) termasuk amalan yang dianjurkan dan bernilai pahala besar.
Ketiga, terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa mayit sangat membutuhkan doa dari orang yang masih hidup, bahkan doa tersebut lebih berharga baginya daripada dunia dan seisinya.
Ini menjadi penguat bahwa kegiatan tahlilan yang berisi doa dan istighfar untuk mayit memiliki manfaat menurut ajaran Islam.
Keempat, praktik tawassul juga dijadikan dalil pendukung, seperti kisah para sahabat yang bertawassul dalam doa.
“Dari sahabat anas, ia mengatakan: pada zaman Umar bin Khaththab pernah terjadi musim paceklik. Ketika melakukan shalat istisqa’ Umar bertawassul kepada paman Rasulullah, Abbas bin Abdul Muththalib: Ya Tuhan, dulu kami, mohon kepada-Mu dengan wasilah Nabi-Mu dan Engkau menurunkan hujan kepada kami, sekarang kami mohon kepada-Mu dengan tawassul paman Nabi-Mu, turunkanlah hujan kepada kami. Allah pun segera menurunkan hujan kepada mereka." (HR. al-Bukhari)
Hal ini menunjukkan bahwa berdoa dengan perantara (termasuk menghadiahkan bacaan kepada mayit) dipahami sebagai sesuatu yang dibolehkan oleh sebagian ulama.
Tahlil bukan ibadah mahdhah yang secara langsung dicontohkan Nabi, tetapi merupakan kumpulan amalan baik (dzikir, doa, sedekah spiritual) yang memiliki dasar dari Al-Qur’an, hadis, dan praktik ulama, sehingga masuk dalam ranah khilafiyah (perbedaan pendapat) yang perlu disikapi dengan saling menghormati.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/DOA-TAHLIL-4534543.jpg)