Pilpres 2024
Pentingnya Jurnalisme Merdeka Menghadapi Pilpres 2024
Pada Pemilu 2024, ditekankan pentingnya kemerdekaan jurnalis atau jurnalisme merdeka dalam Pemilu 2024.
Pentingnya Jurnalisme Merdeka Menghadapi Pilpres 2024
Laporan Wartawan Tribunnews, Erik Sinaga
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peranan pers dalam Pemilu 2024 menjadi sorotan sejumlah akademisi dan praktisi.
Pada Pemilu 2024, ditekankan pentingnya kemerdekaan jurnalis atau jurnalisme merdeka dalam Pemilu 2024.
Guru besar komunikasi, ahli hukum tata negara, dan kalangan pers menilai ini menjadi tantangan karena pers menjadi rujukan informasi masyarakat dan berkepentingan mengawal pemilu agar berlangsung jujur dan adil.
Baca juga: KPU Komitmen Tak Anaktirikan Masalah Pemilu di Daerah, Termasuk DOB
Poin penting itu mengemuka dalam diskusi publik bertajuk Menguak Pengaruh Jurnalis Merdeka dalam Pilpres 2024 bertempat di sebuah hotel di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (11/11/2023). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Video (AJV).
Guru Besar Komunikasi Universitas Indonesia, Ibnu Hamad, mengatakan media harus memberikan ruang yang sama kepada setiap pasangan calon yang berkontestasi, dalam konteks ini adalah Pilpres 2024. Namun ia memahami bahwa setiap media memiliki versi penekanan masing-masing atas suatu masalah.
"Jurnalisme merdeka pasti jadi rujukan calon pemilih. Tapi masih adakah jurnalis yang merdeka? Itu kan pertanyaannya," ujar Ibnu.
"Sebagai akademisi, saya melihat normatifnya media itu (seharusnya) tidak memihak kepada manapun, tapi saya menempatkan kepada version, ini versi koran A, ini koran B, jadi tidak ada yang lebih objektif, terkecuali yang betul-betul hoax. Kalau kita tempatkan sebagai version kita lebih tenang, media tersebut yang bertanggung jawab atas versinya. Jadi kita sebagai konsumen menjadi konsumen merdeka," imbuh Hamdan.
Ketua Umum Persatuan Wartawan Media Online Indonesia (PWMOI), Jusuf Rizal, mengamini pandangan Hamdan. Menurutnya, jurnalis merdeka susah dijumpai di era sekarang. Ia menyebut industri pers dikuasai oleh kelompok tertentu. Tantangan ini tidak hanya terjadi di Tanah Air tetapi juga pada pers di luar negeri.
Jusuf menekankan, jika kita ingin mengembangkan jurnalis merdeka, media harus kembali ke khitahnya sebagai seorang jurnalis. "Kalau kita bilang masih adakah jurnalis merdeka, paling beberapa," kata Jusuf.
Menghadapi pemilu 2024, lanjutnya, peran jurnalis merdeka sangat dibutuhkan. Idealisme pers akan membangun bangsa dan memastikan kualitas demokrasi terjaga dan bagus.
Pun, proses pemilu bisa berlangsung jurdil karena diawasi pers.
Baca juga: Ada Apa dengan Perpres Jurnalisme Berkualitas?
Pada kesempatan yang sama, jurnalis senior Nugroho Fery Yudho menjelaskan bahw dari zaman ke zaman kemerdekaan jurnalis atau kemandirian jurnalis selalu menjadi tantangan. Fungsi pers sebagai pilar demokrasi kerap dihadapkan dengan berbagai tantangan, seperti kooptasi oleh penguasa, dari era kolonial Belanda dan Jepang.
"Orang tahu bahwa pena itu lebih tajam dari pedang sehingga semua pihak, zaman Belanda ingin kooptasi pers, era Jepang juga begitu, Soekarno juga," kata Nugroho.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/diskusi-publik-bertajuk-menguak-pengaruh-jurnalis-merdeka.jpg)