Cenderaloka
Mengenal Produk Blangkon Solo: Perpaduan Tradisi Jawa dan Sentuhan Modern
Blangkon adalah penutup kepala khas Jawa dengan sejarah panjang, filosofi kuat, dan kini dipadukan dalam desain modern UMKM lokal.
Ringkasan Berita:
- Blangkon merupakan aksesori tradisional Jawa dengan nilai sejarah dan makna filosofis mendalam.
- Asal-usulnya berasal dari masa Kerajaan Mataram dan erat dengan kebiasaan mengikat rambut laki-laki Jawa.
- Ada dua jenis utama: Blangkon Jogja (mondholan besar) dan Blangkon Solo (belakang pipih).
TRIBUNNEWS.COM - Blangkon merupakan aksesori tradisional masyarakat Jawa yang memiliki nilai budaya mendalam.
Hingga kini, blangkon tetap menjadi simbol identitas leluhur dan bagian penting dari warisan budaya.
Bentuknya yang unik, proses pembuatan yang teliti, serta filosofi dalam setiap lipatan menjadikan blangkon bukan hanya penutup kepala, melainkan karya seni penuh sejarah.
Di era mode modern, blangkon kembali digemari sebagai pelengkap busana adat maupun kebutuhan acara budaya.
Kali ini Tribunshopping mengajak Anda mengenal lebih jauh tentang sejarah, asal-usul, hingga makna filosofis dari blangkon.
Baca juga: Suryoart Craft, Dari Hobi Jadi Kerajinan Lokal Bernuansa Budaya yang Mendunia
Sejarah Blangkon: Warisan Leluhur Jawa yang Sarat Makna
Blangkon merupakan penutup kepala khas Jawa yang memiliki posisi penting dalam budaya masyarakat setempat.
Tidak hanya menjadi bagian dari pakaian tradisional, blangkon juga menyimpan perjalanan panjang sejarah dan nilai-nilai budaya yang membentuk jati diri orang Jawa.
Untuk memahami keistimewaan blangkon, kita perlu melihat bagaimana asal-usulnya, perkembangan bentuknya, serta peran maknanya dalam kehidupan masyarakat.
Asal-usul blangkon dipercaya berasal dari masa kerajaan-kerajaan Jawa kuno, khususnya pada era Kerajaan Mataram.
Pada zaman itu, blangkon dikenakan oleh kalangan bangsawan dan abdi dalem sebagai bagian dari busana resmi.
Seiring berjalannya waktu, blangkon mulai digunakan oleh masyarakat umum.
Ada pendapat yang menyebutkan bahwa blangkon bermula dari kebiasaan pria Jawa yang mengikat rambut panjang.
Ketika budaya Islam masuk dan rambut panjang tak lagi umum dipertahankan, bentuk ikatan tersebut kemudian diwujudkan dalam lipatan blangkon.
Secara umum ada dua jenis blangkon yang dikenal hingga sekarang: Blangkon Yogyakarta (Jogja) dan Blangkon Surakarta (Solo).
Keduanya memiliki ciri khas tersendiri.
Baca juga: Julia Craft, UMKM Kreatif Asal Klaten dengan Sentuhan Personal di Setiap Produk
Blangkon Jogja memakai mondholan atau tonjolan besar di bagian belakang sebagai simbol ikatan rambut masa lampau.
Blangkon Solo memiliki bagian belakang yang lebih tipis dan rata, menandakan penyederhanaan gaya hidup masyarakat Surakarta yang dikenal halus dan minimalis.
Perbedaan tersebut menjadi gambaran karakter dua budaya keraton Jawa.
Makna filosofis blangkon juga sangat mendalam.
Setiap lipatan pada blangkon dianggap melambangkan keteguhan hati, kedisiplinan, serta kemampuan mengendalikan diri nilai utama dalam budaya Jawa.
Selain itu, blangkon juga dikaitkan dengan konsep manunggaling kawula lan Gusti, yaitu keselarasan antara manusia dan Tuhannya.
Dengan mengenakan blangkon, seorang pria Jawa diharapkan mampu menjaga tutur kata dan perilakunya, serta menjaga harmoni dalam hidup.
Saat ini, blangkon masih digunakan dalam berbagai acara budaya seperti pernikahan adat, upacara keraton, hingga pertunjukan seni.
Blangkon juga semakin populer di kalangan generasi muda sebagai aksesori yang memiliki sentuhan etnik.
Banyak pengrajin lokal kini terus berinovasi dengan menghadirkan desain modern tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisionalnya.
Blangkon Solo: Kerajinan Lokal yang Tetap Lestari
Bagi Anda yang ingin memiliki blangkon berkualitas dan autentik, salah satu UMKM di Solo yang dapat menjadi pilihan adalah Blangkon Solo.
Latif, pengrajin blangkon dari Solo, memproduksi dua model utama yakni blangkon corak Samurai khas Solo dan blangkon gaya Yogyakarta.
Keunggulan karya Latif terletak pada fleksibilitas desainnya. Selain motif Samurai, ia juga mampu membuat blangkon dengan berbagai pilihan motif batik sesuai permintaan pasar.
“Motif batik apa saja bisa kami aplikasikan ke blangkon. Semua motif bisa dipadukan dengan corak blangkon. Kami mengikuti tren yang sedang populer,” ujar Latif.
Seiring berkembangnya zaman, produk blangkon buatan Latif terus berinovasi dengan memadukan berbagai unsur budaya Indonesia.
Hasilnya, blangkon tak hanya menjadi atribut adat, tetapi juga karya seni modern yang diminati wisatawan maupun anak muda. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/penjual-wayang-kulit-dan-blangkon_20190214_151131.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.