Selasa, 26 Mei 2026

Ny Ainun Habibie Wafat

BJ Habibie: Istri Saya Bertanya... Ada Apa?

Sejarah mencatat, kisah sukses BJ Habibie menduduki kursi RI 1 menggantikan gurunya --Soeharto-- tak lepas dari ketabahan Ny Hasri Ainun Besari dalam menghadapi konflik politik pasca pelimpahan kekuasaan kepada suaminya.

Tayang:
Editor: Achmad Subechi

“Kesempatan itu saya manfaatkan untuk mengusulkan beberapa perubahan. Karena ada perbedaan pandangan menyangkut beberapa nama, maka terjadilah perdebatan yang cukup hangat. Saya menyadari bahwa Pak Harto mempunyai alasan tersendiri yang sudah dia pertimbangkan. Sebaliknya saya juga mempunyai alasan yang rasional dan sesuai aspirasi masyarakat yang berkembang. Akhirnya, karena tidak ada titik temu, maka saya persilakan Pak Harto memutuskan apa yang terbaik, karena penyusunan anggota kabinet adalah hak prerogatif presiden,” ujarnya.

Akhirnya Kabinet Reformasi terbentuk. Tak lama kemudian, Soeharto memanggil Menteri Sekretaris Negara, Saadilah Mursyid, untuk segera membuat Keputusan Presiden mengenai Susunan Kabinet Reformasi yang baru saja dibentuk. Sesuai rencana, Kamis 21
Mei 1998 di Istana Merdeka, Presiden didampingi Wakil Presiden akan mengumumkan susunan Kabinet Reformasi. Selanjutnya, Jumat tanggal 22 Mei l998, para anggota Kabinet Reformasi dilantik Presiden Soeharto.

“Setelah mempersilakan saya meminum teh, Pak Harto menyampaikan bahwa pada hari Sabtu tanggal 23 Mei 1998, ia bermaksud mengundang Pimpinan DPR/MPR untuk datang ke Istana Merdeka,” jelas Habibie. Habibie lalu menimpali bahwa pertemuan itu sudah lama mereka nantikan. Pimpinan DPR/MPR ingin mendapat penjelasan dan penilaian mengenai kehendak rakyat.

Begitu pula mengenai keadaan di lapangan yang sedang berkembang dan berubah tiap detik. “Pak Harto tampaknya sama sekali tidak memerhatikan ucapan saya dan mengatakan bahwa ia bermaksud menyampaikan kepada Pimpinan DPR/MPR untuk mengundurkan diri sebagai Presiden setelah Kabinet Reformasi dilantik.”

Mendengar penjelasan itu Habibie semakin penasaran. Apalagi, Soeharto tidak memberikan alasan kenapa ia harus mengundurkan diri. Padahal, kabinet baru saja dibentuk. Selain itu, Soeharto sama sekali tidak menyinggung kedudukan wakil presiden selanjutnya.

“Menyadari cara berfikir Pak Harto yang telah saya kenal puluhan tahun, tidak disebutnya kedudukan wakil presiden tersebut jelas mempunyai alasan tertentu. Apa yang sebenarnya dikehendaki Pak Harto tentang saya? Apakah saya juga diminta ikut mundur? Pertanyaan ini muncul karena pernyataan Pak Harto sehari sebelumnya di hadapan
sejumlah tokoh masyarakat seolah “meragukan” kemampuan saya.

Demikian sejumlah pertanyaan berkecamuk di benak saya,” kenangnya. Apalagi Habibie mengaku mengetahui benar bagaimana prinsip Soeharto soal konstitusional — Presiden dan Wakil Presiden tidak dipilih sebagai satu paket. Seperti yang tercantum dalam UUD ‘45, jika presiden berhalangan melaksanakan tugasnya, maka wakil presiden berkewajiban untuk melanjutkan. “Keinginan Pak Harto, untuk lengser dan mandito atau mundur sebagai presiden, menjadi seorang negarawan sangat saya pahami dan hormati. Namun, apakah dengan cara demikian pelaksanaanya? Beberapa saat saya diam, dengan harapan mendapat penjelasan mengenai alasan beliau mundur, serta beberapa pertanyaan yang mengganggu pikiran tersebut,” kenangnya.
                                                                                  ***
KEINGINAN Presiden Soeharto untuk lengser dari kursi kekuasaan, membuat BJ Habibie terdiam. Habibie masih penasaran mengapa orang dekatnya itu hendak mundur dan ingin menjadi seorang negarawan.

"Beberapa saat saya diam, dengan harapan mendapat penjelasan mengenai alasan beliau mundur, serta beberapa pertanyaan yang mengganggu pikiran tersebut. Namun ternyata tidak diberikan. Walaupun saya sangat memahami Ketetapan MPR mengenai kedudukan dan kewajiban presiden dan wakil presiden, saya terpaksa bertanya, "Pak Harto, kedudukan saya sebagai wakil presiden bagaimana?"

Pak Harto spontan menjawab, "Terserah nanti. Bisa hari Sabtu, hari Senin, atau sebulan kemudian, Habibie akan melanjutkan tugas sebagai Presiden," jawab Soeharto. Jawaban itu membuat Habibie terkejut. Ia bertanya dalam hati. Bukankah kevakuman dalam pimpinan negara dan bangsa tidak boleh terjadi? Jika Soeharto benar-benar mundur, apakah hal itu sudah sesuai dengan UUD '45 dan Ketetapan MPR?

 "Bagaimana kedudukan saya, sebagai Koordinator Harian Keluarga Besar Golkar tanpa pengganti? Begitulah, dalam suasana pertemuan yang tidak lazim, serta suasana di lapangan yang tidak menentu dan cukup mengkhawatirkan, muncul berbagai pertanyaan yang amat mengganggu pikiran saya," kenangnya.

Untuk mengakhiri suasana pembicaraan yang tidak 'kondusif' itu, Habibie berusaha mengalihkan perhatian. Ia memberanikan diri mengajukan pertanyaan. "Apakah Pak Harto sudah menerima surat pernyataan dari Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita dan empat belas menteri di bawah koordinasi Menko Ekuin?"

Soeharto lalu angkat bicara. Katanya, ia sudah mendengar kabar itu dari anaknya Mbak Tutut. Tetapi ia belum membaca suratnya. "Kemudian Pak Harto mengulurkan tangannya untuk saya jabat, sebagai isyarat bahwa ia menghendaki diakhirinya pertemuan tersebut. Pak Harto memeluk saya, dan mengatakan agar saya sabar dan melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Pak Harto juga meminta agar saya menyelesaikan masalah Ginandjar dan kawan-kawan dengan baik."

Sebelum meninggalkan Cendana, Soeharto kembali berpesan. "Laksanakan tugasmu dan waktu tidak banyak lagi." Dengan perasaan yang tidak menentu dan pikiran yang dipenuhi tanda tanya, Habibie meninggalkan Cendana.
                                                                                  ***
WAKTU terus berjalan. Di dalam mobil --perjalanan menuju ke Kuningan-- Habibie menugaskan ajudannya Kol (AL) Djuhana segera menghubungi semua menteri di bawah koordinasi Menko Ekuin, dan meminta agar mereka hadir pada Sidang Ad Hoc Kabinet Terbatas di kediaman Habibie pukul 22.00.

"Dalam perjalanan dari Cendana ke Kuningan, saya panjatkan doa dengan bahasa yang tulus, dengan getaran hati dan jiwa, ikhlas datang dari hati sanubari saya. Tuhan, berilah Pak Harto kekuatan dan petunjuk mengambil jalan yang benar dalam memimpin bangsa Indonesia sesuai kehendak-Mu. Berilah Pak Harto, kesabaran dan kesehatan yang beliau butuhkan. Ampunilah segala dosa Pak Harto, yang sengaja ataupun tidak sengaja."

Masih diwarnai ketegangan, Habibie kembali melantunkan doanya. "Oh Tuhan, saya tidak bertanya mengapa, kenapa, dan bagaimana, semua ini dapat terjadi. Karena saya berkeyakinan bahwa semua ada artinya yang sekarang saya belum memahami tetapi kelak saya ketahui. Jikalau saya diperkenankan memohonkan sesuatu, maka berilah saya kekuatan, kesabaran untuk menghadapi semuanya dengan tenang dan menyelesaikan semua persoalan demi kepentingan seluruh bangsa Indonesia dengan baik. Berilah saya petunjuk untuk mengambil jalan yang benar, sesuai kehendakmu. Ampunilah dosa saya."

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved