Perampok Uang ATM Berencana Bagikan Uang untuk Anak Yatim
Budi Wijaya, karyawan perusahaan penyedia jasa keamanan dari PT SGI yang mencuri uang Rp 1,6 miliar, sempat kebingungan.
Laporan Wartawan Wartakota, Budi Sam Law Malau
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Budi Wijaya, karyawan perusahaan penyedia jasa keamanan dari PT SGI yang mencuri uang Rp 1,6 miliar, sempat kebingungan dengan sisa uang Rp 1 miliar hasil rampokannya.
Pensiunan anggota TNI tahun 1984 dengan pensiun dini itu, akhirnya memutuskan untuk memberikan sebagian uang sisa rampokan sebanyak Rp 1 miliar, ke yatim piatu dan keluarganya.
Namus belum sempat dilakukan, Budi dibekuk aparat Subdit Resmob Diteeskrimum Polda Metro Jaya di salah satu hotel melati di Bintaro, Jakarta Selatan, Sabtu (1/2/2014) lalu.
"Saya bingung mau diapakan sisa uangnya karena gak habis-habis. Akhirnya saya rencanakan sebagian mau kasih ke yatim piatu dan keluarga," kata Budi saat dihadirkan di Mapolda Metro Jaya, Kamis (3/2/2014).
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, menuturkan motif Budi melakukan aksinya karena sakit hati dengan PT SGI tempatnya bekerja, selama delapan bulan terakhir.
"Setiap bulan gajinya dipotong Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu tanpa alasan. Dia mengaku jika menanyakan ke bagian keuangan, justru gak dikasih pekerjaan mengawal," katanya di Mapolda Metro Jaya, Kamis (13/2/2014).
Kasubdit Resmob, AKBP Adex Yudiswan, menjelaskan setelah menerima laporan perampokan pihaknya langsung melakukan penyelidikan dimana diketahui Budi dan Hendrik kabur ke Bandung dengan uang Rp 1,6 milar.
Setelah ditelusuri, kata Adex, pihaknya berhasil membekuk Budi di salah satu hotel melati di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, Sabtu (1/2/2014).
"Uang sisa hasil perampokan ada Rp 1 Miliar di mobil Honda Civicnya, kami amankan. Mobil Honda Civic itu dibeli tersangka juga dari hasil rampokan," katanya.
Menurut Adex, selain uang Rp 1 miliar berupa pecahan Rp 50.000 sebanyak 20.000 lembar, pihaknya juga menyita senjata air softgun yang dimodifikasi menjadi senjata api dengan 5 butir peluru tajam.
Adex menjelaskan kini pihaknya masih mengejar Hendrik alias Batak rekan Budi yang ikut membantu melakukan perampokan itu. Hendrik, katanya, diketahui bekerja sebagai sopir truk freelance.
Adex menjelaskan dari uang rampokan sebesar Rp 1,6 miliar, sebanyak Rp 450 juta diserahkan kepada Hendrik. Lalu sekitar Rp 50 juta dipakai Budi untuk membeli mobil Honda Civic tahun 1996 di Bandung.
"Sebanyak Rp 100 juta digunakan untuk biaya dalam pelarian mereka. Sementara Rp 1 miliar dalam bentuk pecahan Rp 50.000 sebanyak 20.000 lembar dipegang Budi dan selalu dibawanya di dalam mobil," kata Adex, Kamis (13/2/2014).
Menurutnya Budi dibekuk di sebuah hotel Melati di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, Sabtu (1/2/2014) lalu.
Uang Rp 1 miliar, kata Adex, masih ada di mobil pelaku.
"Pelaku mengaku kebingungan dengan uang Rp 1 Miliar itu. Ia bingung mau diapakan uangnya karena sudah dibuat belanja tidak habis-habis. Sementara sekitar Rp 600 juta sudah habis yakni diberikan ke rekannya yang membantu perampokan, beli mobil dan biaya mereka dalam pelarian dan belanja-belanja serta makan," kata Adex.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20140213_164411_tersangka-budi-wijaya.jpg)