Senin, 13 April 2026

Nama Jalan Prapatan Berubah jadi Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun

Perubahan nama dinilai Djarot sudah sesuai, karena berdiri di Markas Komando Korps Marinir.

Editor: Johnson Simanjuntak
Dispenal
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat bersama Komandan Korps Marinir TNI AL, Mayor Jenderal TNI (Mar) Buyung Lalana didampingi Walikota Jakarta Pusat, Mangara Pardede serta pejabat TNI dan Polri berfoto bersama usai meresmikan Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun, Jumat (19/2). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jalan yang membentang di depan Markas Komando Korps Marinir, Tugu Tani dan Hotel Aryaduta kini berubah nama menjadi Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat meresmikan perubahan nama jalan tersebut.

Peresmian dihadiri ratusan prajurit marinir dan sejumlah kendaraan tempur Korps Marinir TNI AL.

Perubahan nama dinilai Djarot sudah sesuai, karena berdiri di Markas Komando Korps Marinir.

Dengan perubahan jalan tersebut, diharapkan dapat memberikan penghargaan bagi kedua pahlawan nasional Usman dan Harun.

“Apalagi jika mengingat perjuangan keduanya sebagai prajuri KKO AL (Korps Komando TNI AL sekarang menjadi Korps Marinir TNI AL). Berkat perjuangannya, kedua telah dianugerahi gelar pahlawan nasional,” ujar Djarot di Markas Komando Korps Marinir, Jakarta Pusat, Jumat (19/2/2016).

Perubahan nama jalan ini telah diputuskan melalui Surat Keputusan Gubernur DKI No. 758 tahun 2013 tanggal 13 Mei 2013.

Dalam SK tersebut, menetapkan Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun menggantikan nama Jalan Prapatan berdasarkan hasil penelitian administrasi terhadap surat permohonan Komandan Korps Marinir tanggal 28 September 2012 dan rekomendasi Walikota Jakarta Pusat pada tanggal 14 Januari 2013.

Sekilas tentang Usman dan Harun; Sersan KKO Janatin alias Usman bin Haji Muhamad Ali dan Kopral KKO Tohir alias Harun bin Said merupakan prajurit yang telah menjadi martir dalam perjuangan Dwikora ketika Indonesia konfrontasi dengan Malaysia.

Pada Maret 1965, Usman, Harun dan Gani bin Arus mendapatkan tugas khusus dari Komandan Operasi Tertinggi (KOTI) untuk memasuki Singapura sebagai bagian dari perkuatan militer Indonesia untuk membantu para sukarelawan Indonesia di wilayah musuh.

Dengan menggunakan perahu karet, ketigaknya berangkat pada 8 Maret 1065 dengan membawa 12,5 kilogram (kg) bahan peledak. Mereka diperintahkan untuk melakukan sabotase ke sasaran penting di Kota Singapura. Mereka harus menentukan sasaran itu sendiri.

Dua hari kemudian, tepatnya 10 Maret 1965, ketiganya berhasil meledakkan bangunan McDonald House yang ada di pusat kota. Peristiwa itu menimbulkan kegemparan dan kekacauan bagi masyarakat Singapura.

Setelah melakukan aksinya, Usman dan Harus melarikan dari dan mencapai daerah pelabuhan. Sedangkan Gani bin Arus mencari jalan lain.

Motorboat yang digunakan Usman dan Harun untuk kembali ke Pulau Sambu, mengalami kerusakan mesin ditengah perjalanan mereka.

Akhirnya, keduanya ditangkap patroli musuh pada 13 Maret 1965 dan dibawa kembali ke Singapura.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved