Pilgub DKI Jakarta
Perang Cyber Antar Pendukung, Kubu Ahok Masih Unggul
Suhu politik di Jakarta akhir-akhir ini memanas, bahkan menjadi isu nasional karena masifnya pemberitaan media massa
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta tinggal hitungan bulan.
Bisa dimaklumi jika suhu politik di Jakarta akhir-akhir ini memanas, bahkan menjadi isu nasional karena masifnya pemberitaan media massa soal perseteruan para kandidat maupun pendukungnya.
Gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam beberapa survei disebutkan memiliki elektabilitas tertinggi dibandingkan dengan nama-nama yang bermunculan seperti Yusril Ihza Mahendra, Adyaksa Dault, Ahmad Dhani, Lulung Lunggana.
Hasil survei itu, langsung atau tidak langsung, bisa membuat para lawan Ahok keder. Sebaliknya, Ahok makin percaya diri dan menganggap kepemimpinannya di Jakarta selama ini berhasil.
Disadari atau tidak, elektabilitas Ahok yang masih tinggi seolah menjadi pemantik segala macam kegaduhan politik di Jakarta. Bahkan, kemudian menjadi isu nasional karena masifnya pemberitaan.
Masih terngiang jelas perseteruan antara Ahok dan beberapa anggota DPRD DKI Jakarta terkait banyak hal, mulai soal anggaran Pemprov DKI, kasus korupsi UPS dan sebagainya.
Satu sama lain saling tuduh. Saling menjatuhkan. Saling berusaha membunuh karakter. Tak sampai di situ, Ahok juga terlibat perang argument dengan beberapa anggota DPR RI, misalnya terkait penggusuran lokasi prostitusi Kalijodo, pembelian lahan RS Sumber Waras, reklamasi Teluk Jakarta, penggusuran Pasar Ikan dan sebagainya.
Penyebaran secama masif isu-isu negatif terhadap bakal calon gubernur menjadi salah satu cara paling efektif membunuh karakter si calon di hadapan masyarakat.
Dengan adanya black campaign seperti ini, simpati masyarakat akan berkurang dan akan berdampak kepada pilihan terhadap pemimpin mereka nantinya. Apalagi didukung dengan keterbukaan informasi dan mudahnya masyarakat mengakses berita, baik dari media elektronik, media cetak atau jejaring sosial.
Sigap
Terkait aksi saling sikut para kandidat gubernur DKI Jakarta, banyak kalangan melihat kemampuan para pendukung Ahok (ahokers) lebih jago dalam memback-up segala bentuk berita atau informasi yang menyudutkan idolanya.
Hal ini terlihat dari komentar-komentar di link berita di berbagai media online, dimana di saat ada lawan politik yang berupaya menjatuhkan citra Ahok, maka Ahokers segera membantah atau justru menghakimi narasumber yang dikutip dalam berita tersebut dengan tujuan untuk mempengaruhi pembaca lainnya.
Pakar Komunikasi Politik Universitas Jayabaya, Lely Arrianie Napitupulu menilai, kesadaran terhadap pentingnya keberadaan ‘pasukan cyber’ dalam menghadapi pertarungan pilkada sudah seharusnya disadari para calon.
Berkaca pada pemilukada DKI Jakarta 2012 lalu, dimana pasukan cyber bernama Jokowi Ahok Social Media Volunteer (Jasmev) menjadi suksesor penting dalam meraih kemenangan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama.
“Teori komunikasi menjadi hal begitu penting bagi setiap calon. Tujuannya jelas, membentuk persepsi public, meraih simpati dan empati dan mempengaruhi masyarakat untuk kemudian memilihnya,” katanya kepada Warta Kota, Senin (18/4/2016).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20140912_090351_hacker-gmail.jpg)