Ratusan Pria Bercadar Ikat 7 Satpam Universitas Trisakti Dinihari Tadi
Peristiwa itu terjadi pukul 03.00 dan menjadi awal dari keributan yang terjadi di Trisakti, hari ini.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Sebanyak tujuh orang petugas sekuriti Kampus Trisakti diserang ratusan pria bercadar, Rabu (24/8/2016) dini hari. Mereka juga mengikatnya ketujuh Satpam itu.
Peristiwa itu terjadi pukul 03.00 dan menjadi awal dari keributan yang terjadi di Trisakti, hari ini.
Kanit IV Subdit Kamneg, Komisaris Armayni, mengatakan, berdasarkan keterangan tujuh sekuriti itu, ratusan orang itu masuk saat para Satpam nyaris tertidur.
"Sudah jam tiga pagi soalnya itu," kata Armayni kepada wartawan, termasuk Wartakotalive.com di Polda Metro Jaya, siang ini.
Massa menyerbu pos sekuriti dan lekas mengikat ketujuh Satpam. Lalu meminta Satpam itu menandatangani sebuah surat.
Isi suratnya adalah menyetujui kepemimpinan Rektor baru Trisakti. "Massa masuk setelah merusak gembok pagar gerbang," kata Armayni.
Imbas dari aksi itu, Polda Metro Jaya menggelandang 71 pria yang ikut aksi anarkis tersebut.
Polisi mencari gerombolan massa yang memakai tanda pengenal bertuliskan 'Yayasan Trisakti'.
Sebab pria-pria itulah yang diketahui beraksi merusak gembok dan mengikat para Satpam.
Dari total 71 orang yang digelandang, hanya 38 orang yang ditemukan memakai tanda pengenal bertuliskan 'Yayasan Trisakti'.
Namun ketujuh Satpam yang diikat tak bisa mengidentifikasi siapa dari ke 38 orang itu yang mengikat mereka.
"Soalnya kan mereka memakai cadar semua itu. Jadi sulit diidentifikasi," kata Armayni.
Makanya, kata Armayni, pihaknya kini tengah mengambil seluruh rekaman CCTV yang ada di Trisakti. Agar terlihat lebih jelas siapa saja yang beraksi mengikat sekuriti.
Sementara itu, diketahui pria-pria bertanda pengenal Yayasan Trisakti itu merupakan massa bayaran dari Senayan. Sebagian besar bekerja sebagai petugas jaga parkir.
Budi (45), salah satu massa yang memakai tanda pengenal 'Yayasan Trisakti', mengatakan, koordinator mereka adalah seorang lelaki bernama Rudi.
Lelaki itu kerap nongkrong di kawasan rumah makan di Senayan. Pria bernama Rudi pula yang meminta Budi mengkoordinir sejumlah massa untuk berangkat ke Trisakti, pagi tadi.
"Saya kenal orang bernama Rudi itu di Lapo," kata Budi kepada Wartakotalive.com di Polda Metro Jaya, siang ini.
Satu hari sebelum peristiwa, Rudi menghampiri Budi dan memintanya untuk mengkoordinir sekitar 30an orang agar berangkat ke Trisakti pada dinihari tadi.
Budi pun setuju saja. Sebab dia mudah menggerakkan anak buahnya yang sebagian besar penjaga parkir untuk berangkat kesana.
Dia kemudian diberi uang Rp 1 juta, lalu dijanjikan tanda pengenal dan akan diberi nasi bungkus begitu tiba di Trisakti. Selain itu, seluruh massa yang dibawa Budi dijanjikan akan diberi uang Rp 150.000 per orang.
Tetapi Budi mengaku bahwa ada kelompok lain yang datang lebih dulu dari kelompoknya.
"Saat kami datang, pintu gerbang sudah terbuka dan kami tak tahu ada sekuriti diikat," kata Budi. Lagipula, ketika kelompoknya datang, sudah banyak orang disana. (Theo Yonathan Simon Laturiuw)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/massa-yang-diduga-melakukan-aksi-anarkis-di-trisakti_20160824_155500.jpg)