Ramadan 2018
Masjid Istiqlal Simbol Kemerdekaan Masyarakat Indonesia
Di seberang Timur masjid ini berdiri Gereja Katedral Jakarta, seakan menggambarkan kerukunan hidup beragama di Indonesia.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara. Masjid kebanggaan masyarakat Indonesia ini memeiliki luas lebih dari 9 hektar yang membuat masjid ini mampu menampung hingga 200 ribu jemaah.
Terletak di Jalan Taman Wijaya Kusuma yang dahulu adalah bekas Taman Wilhelmina, membuat masjid ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para jemaah ataupun para turis. Di seberang Timur masjid Istiqlal, berdiri Gereja Katedral Jakarta, seakan menggambarkan kerukunan hidup beragama di Indonesia.
Sejarah Pembangunan Masjid Istiqlal
Setelah kemerdekaan Indonesia, para ulama mencetuskan gagasan untuk mendirikan sebuah masjid. Pada tahun 1950, para ulama melakukan pertemuan untuk merencanakan pembangunan masjid.
Mereka yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Wahid Hasyim yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia, H. Agus Salim dan H. Anwar Tjokroaminoto serta berbagai elemen masyarakat lainnya. Pertemuan tersebut dipimpin oleh KH Taufiqurrahman.
Pada pertemuan tersebut disepakati bahwa masjid akan diberi nama Istiqlal yang secara harfiah berasal dari bahasa Arab yang bermakna kemerdekaan, kebebasan. Sementara secara istilah secara menggambarkan rasa syukur kepada Allah atas limpahan rahmat berupa kemerdekaan bangsa.
Kemudian disepakati juga bahwa terbentuknya Yayasan Masjid Istiqlal, secara mufakat dan disepakati H. Anwar Tjokroaminoto sebagai ketuanya.
Setelah membentuk yayasan, Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal (PPMI) melaporkan rencana pembangunan masjid kepada presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno. Beliau sangat mendukung untuk rencana tersebut dan akan membantu sepenuhnya demi mewujudkan membangun Masjid Istiqlal yang akan menjadi simbol kemerdekaan masyarakat Indonesia.
Dibuatlah saymebara untuk sayembara untuk mendapatkan desain ideal masjid yang mampu merepresentasikan kemerdekaan Indonesia dan Ir. Soekarno terjun langsung dengan menjabat sebagai Ketua Dewan Juri.
Sayembara yang dilakukan tahun 1955 itu mengumpulkan sebanyak 30 peserta, namun hanya 27 peserta yang menyertakan gambar. Dewan Juri memilih 5 peserta terbaik dan akhirnya menetapkan Frederich Silaban sebagai pemenang. Menariknya, Frederich Silaban adalah seorang Kristiani.
Terjadi perdebatan ketika itu terkait lokasi pembangunan Masjid Istiqlal. Wakil Presiden RI saat itu, Mohammad Hatta mengusulkan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Jl. Moh. Husni Thamrin yang kini menjadi lokasi Hotel Indonesia. Dengan pertimbangan lokasi tersebut berada di lingkungan masyarakat Muslim dan waktu itu belum ada bangunan di atasnya.
Sementara itu, Presiden Soekarno mengusulkan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina, yang di dalamnya terdapat reruntuhan benteng Belanda dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan pemerintah dan pusat-pusat perdagangan serta dekat dengan Istana Merdeka.
Hal ini sesuai dengan simbol kekuasaan keraton di Pulau Jawa dan daerah-daerah di Indonesia bahwa masjid harus selalu berdekatan dengan kraton atau dekat dengan alun-alun, dan Taman Medan Merdeka dianggap sebagai alun-alun Ibu Kota Jakarta.
Namun pada akhirnya, setelah dilakukan musyawarah, akhirnya ditetapkan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina. Untuk memberi tempat bagi masjid ini, bekas benteng Belanda yaitu benteng Prins Frederick yang dibangun pada tahun 1837 dibongkar.
Pembangunan Masjid Istiqlal sendiri begitu menghadapi rintangan dan tidak berjalan lanacar karena situasi politik yang tidak kondusif. Pemancangan tiang pertama ilakukan oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Karena pada saat itu kondisi politik yang belum stabil, dan banyak golongan yang bertikai memperjuangkan kepentingannya, maka pembangunan masjid ini terhenti sama sekali.
Tujuh belas tahun kemudian, Masjid Istiqlal selesai dibangun. Dimulai pada tanggal 24 Agustus 1961, dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978.
Area Masjid Istiqlal terbagi atas bangunan masjid, taman, tempat parkir, dan kolam air mancur. Bangunan masjid sendiri terdiri dari beberapa bagian, antara lain gedung utama, gedung pendahuluan, teras raksasa, menara, dan lantai dasar.
Gaya arsitektur Masjid Istiqlal adalah arsitektur Islam modern internasional, yaitu menerapkan bentuk-bentuk geometri sederhana seperti kubus, persegi, dan kubah bola, dalam ukuran raksasa untuk menimbulkan kesan agung dan monumental. Bahannya pun dipilih yang besifat kokoh, netral, sederhana, dan minimalis, yaitu marmer putih dan baja antikarat (stainless steel).
Kegiatan Masjid Istiqlal di Bulan Ramadan
Banyak kegiatan yang diadakan oleh Masjid Istiqlal di bulan suci Ramadan. Salah satu kegiatan yang rutin selain salat tarawih berjamaah adalah buka puasa bersama yang diadakan setiap hari. “Di masjid ini (Masjid Istiqlal) setiap hari ada bagi-bagi takjil atau buka puasa bersama setiap hari,” kata salah seorang jemaah Masjid Istiqlal saat ditemui.
Minggu (20/5/2018) kemarin, kami sempat ikut berbukas puasa bersama. Para peserta buka puasa bersama terlihat mulai ramai memadati Masjid Istiqlal saat waktu Salat Ashar tiba. Untuk menunggu waktu berbuka puasa, tidak sedikit dari pengunjung yang melakukan foto-foto atau selfie bersama keluarga dan teman.
Selain itu, di Masjid Istiqlal juga diadakan Salat Malam (Qiyamul Lail) berjamaah pada 10 malam terakhir Ramadhan, Pesantren Kilat, tausiyah, dan peduli anak yatim.