Breaking News:

Covid-19 Belum Usai, BPTJ Minta Perusahaan Tetap Berlakukan WFH ke Karyawan

BPTJ menilai, masyarakat saat ini menganggap ancaman virus corona atau Covid-19, sudah tidak ada dalam fase new normal.

Alex Suban/Alex Suban
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan(kanan) bersama Wali Kota Bogor Bima Arya (tengah) dan Direktur Utama PT KAI (Persero) Didiek Hartantyo turut antre d Stasiun Bogor di Jawa Barat, Senin (15/6/2020). Gubernur DKI Jakarta melakukan kunjungan kerja untuk meninjau kepadatan penumpang di Stasiun Bogor dan penyediaan layanan bus gratis oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kota Bogor untuk penumpang KRL Commuter Line pada masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Warta Kota/Alex Suban 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hari Darmawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), meminta kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) tetap dilanjutkan.

BPTJ menilai, masyarakat saat ini menganggap ancaman virus corona atau Covid-19, sudah tidak ada dalam fase new normal.

Menurut Kepala BPTJ, Polana Pramesti, sebagian masyarakat ternyata sudah terbiasa bekerja dari rumah tanpa hambatan maka sebaiknya tetap dilanjutkan.

"Kami mengajak masyarakat agar tetap waspada, karena wabah ini masih berlangsung dan aktivitas yang semua dihentikan kembali dimulai dan justru memiliki risiko penularan tinggi," ucap Polana dalam keterangannya, Selasa (14/7/2020).

Kemudian lanjut Polana, apabila masyarakat memang harus ke kantor maka frekuensinya bisa dikurangi. Misal, sebelumnya lima hari per pekan menjadi dua hari per pekan dengan pengaturan jadwal.

Baca: BPTJ: Angkutan Bus Alternatif untuk Mengurai Pengguna KRL yang Mencapai 1.000 Orang

"Perusahaan dan perkantoran juga sebaiknya mengatur jadwal kerja para pekerjanya, agar tidak ada penumpukan dalam satu waktu saat pulang dan pergi bekerja," ucap Polana.

Baca: KAI Minta Penambahan Batas Kapasitas Angkut KRL Commuter Line

Saat ini, menurut Polana, ada euforia dalam kalangan masyarakat yang menyambut adaptasi kebiasaan baru dan seolah-olah ancaman wabah Covid-19 ini sudah selesai.

"Hal ini juga bedampak pada transportasi publik, sulit melayani masyarakat dengan protokol kesehatan apabila demand masih sama dengan sebelum wabah Covid-19 ada," ucap Polana.

Menurutnya, dengan kapasitas angkut yang dikurangi agar tercipta protokol kesehatan sangatlah sulit melayani demand yang tidak berkurang seperti sebelum wabah.

Penulis: Hari Darmawan
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved