Breaking News:

Penembakan di Cengkareng

Selama Beroperasi RM Cafe tidak Pernah Mendapat Izin dari RW dan Warga Setempat

Ali Rosiani mengatakan, Cafe RM yang beroperasi di wilayahnya selama ini tidak mendapatkan izin dari masyarakat sekitar.

Tribunnews.com, Rizki Sandi Saputra
Lokasi penembakkan oleh oknum Polisi Bripka CS, RM Cafe yang sudah disegel permanen oleh petugas, Jumat (26/2/2021). 

Laporan Reporter Tribunnews.com, Rizki Sandi Saputra

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua RW 04 Cengkareng Barat Ali Rosiani mengatakan, Cafe RM yang beroperasi di wilayahnya selama ini tidak mendapatkan izin dari masyarakat sekitar.

Diketahui cafe ini merupakan tempat kejadian dari tindakan brutal anggota kepolisian Bripka CS yang melakukan penembakan sehingga mengakibatkan tiga orang meninggal termasuk seorang anggota TNI AD.

"Ribut-ribut, selama ini kan mereka tidak ada izinnya, kami tidak mengijinkan, masyarakat RW 4 (juga) tidak mengizinkan adanya kafe, selama ini saya juga gak pernah masuk, jadi gak tau," kata Ali kepada wartawan, Jumat (26/2/2021).

Lebih lanjut Ali mengatakan, kafe yang telah beroperasi kurang lebih sejak 2013 ini awalnya merupakan toko pakaian.

Setelah itu, ada seorang pihak yang menyewa toko pakaian tersebut dan dijadikan sebagai arena biliar.

"Dulunya toko pakaian disewa sama namanya si Yudi buat buka biliar, awalnya biliar, akhirnya dia buka kafe," lanjut Ali.

Kasatpol PP Jakarta Barat Timo Sijabat usai penutupan permanen Cafe RM di Cengkareng Barat, Jakarta Barat, Jumat (26/2/2021).
Kasatpol PP Jakarta Barat Timo Sijabat usai penutupan permanen Cafe RM di Cengkareng Barat, Jakarta Barat, Jumat (26/2/2021). (Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra)

Lebih lanjut kata Ali, mengedepankan sisi agamis menjadi faktor utama kafe RM ini tidak diizinkan beroperasi di wilayahnya.

Baca juga: Dua Pesan Pangdam Jaya Tentang Insiden Penembakan di Cafe RM Cengkareng

Tidak hanya itu, warga sekitar juga kerap mengeluhkan terkait aktivitas yang ada di dalam kafe RM setiap malamnya.

"Ada bisikan (keluhan) segala macem ada. Dari awal kami tidak setuju, karena kami wilayahnya agamis ya, susah untuk kami (mengizinkan) itu," ungkapnya.

Halaman
12
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved