Penjelasan Pemprov DKI Mengapa Harga Cabai - Minyak Goreng Melambung Tinggi

DKPKP DKI Jakarta Suharini Eliawati mengungkap faktor yang menyebabkan harga minyak dan cabe sempat melonjak. 

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Theresia Felisiani
Tribun Jakarta/Satrio
Pedagang minyak goreng curah di Pasar Slipi, Jakarta Barat, Senin (29/11/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta Suharini Eliawati mengungkap faktor yang menyebabkan harga minyak dan cabe sempat melonjak. 

Dia mengatakan faktor utama fluktuasi harga pangan seperti cabai dipengaruhi musim penghujan.

Sedangkan kenaikan harga minyak goreng diakibatkan naiknya harga Crude Palm Oil (CPO) internasional.

“Faktor utama fluktuasi tinggi pada komoditas cabai adalah curah hujan yang menyebabkan bunga rontok, pembungaan terlambat, kualitas cepat busuk, sehingga biaya pemanenan dan pemeliharaan bertambah,” terang Suharini di Gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis (6/1/2022).

Baca juga: Harga Cabai - Telur Melonjak, DPRD DKI Minta Pemprov Genjot Stabilitas Harga di Pasar

Baca juga: Kata Kasetpres Heru Budi Hartono Soal Namanya Disebut Calon Kuat Pengganti Anies Baswedan

Baca juga: Wakil Wali Kota Bekasi Bongkar Komunikasi dan Aktivitas Terakhir Bersama Rahmat Effendi

Pada lokasi yang sama, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Pamrihadi Wiraryo mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah upaya untuk menjaga stabilitas harga di pasaran.

Satu di antaranya pemenuhan kebutuhan beras dengan membuat panen kontrak seluas 6.410 hektare pada tahun 2021 dan direncanakan diperluas di tahun 2022 menjadi 7.500 hektare.

“Kami mengelola contract farming, dalam hal ini agar memastikan gabah terus terproduksi untuk ketahanan pangan Jakarta,” kata Pamrihadi.

Baca juga: OTT Wali Kota Bekasi Berawal dari Informasi Penyerahan Uang hingga Bang Pepen Ditangkap di Rumahnya

Baca juga: Wagub DKI hingga Aktivis 98 Tanggapi Aksi Sidak Giring Ganesha ke Sirkuit Formula E di Ancol

Selain itu, BUMD DKI bidang pangan ini juga memperluas kerjasama pasokan telur ayam dengan sistem B to B atau Business to Business.

Kemudian perluasan budidaya tanaman padi, kerjasama gudang beras, optimalisasi pasar dan bazar murah. Serta penambahan rekanan dalam penyaluran produk.

“Penambahan rekanan bisa dengan e-commerce, pasar modern, dan pasar tradisional,” pungkas dia.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved