Instalasi Edukatif Angkat Pentingnya Pengelolaan Sampah di Jakarta
Melalui pendekatan visual dan interaktif, pengunjung diajak menyadari bahwa sampah dari konsumsi sehari-hari tidak benar-benar hilang
Ringkasan Berita:
- Instalasi “Journey into Sustainability” di ASHTA District 8 mengedukasi pentingnya pengelolaan sampah melalui pendekatan visual interaktif publik.
- Pengunjung diajak memahami perjalanan limbah hingga Bantar Gebang serta potensi daur ulangnya kembali.
- Fasilitas pemilahan dan aktivitas kreatif mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah berkelanjutan sehari-hari.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Isu pengelolaan dan pembuangan sampah kembali mendapat perhatian melalui sebuah instalasi edukatif bertajuk 'Journey into Sustainability' yang digelar dalam rangkaian ARTCYCLE di ASHTA District 8 pada 17 April hingga 17 Mei 2026.
Program ini mengajak publik memahami perjalanan limbah di Indonesia, termasuk realitas di Bantar Gebang yang menjadi salah satu tempat pembuangan akhir terbesar di kawasan Jakarta.
Melalui pendekatan visual dan interaktif, pengunjung diajak menyadari bahwa sampah dari konsumsi sehari-hari tidak benar-benar hilang, melainkan terus menumpuk dan membutuhkan pengelolaan serius.
Beragam instalasi ditampilkan untuk menggambarkan bagaimana limbah dapat diolah menjadi produk bernilai guna. Material seperti banner, tekstil, plastik, hingga limbah organik diperlihatkan dalam proses transformasinya.
Salah satu instalasi utama berupa kanopi bergelombang berbahan Tyvek yang terinspirasi dari lanskap Bantar Gebang, merepresentasikan tumpukan sampah sekaligus potensi yang tersimpan di dalamnya.
Baca juga: Pondok Pesantren Minhajurrosyidiin Olah 80 Persen Sampah Mandiri dengan Zero Waste
Melalui kegiatan ini, penyelenggara ingin menekankan bahwa limbah tidak selalu berakhir sebagai beban lingkungan, melainkan dapat memiliki 'kehidupan kedua' jika dikelola dengan tepat.
Pendekatan ini juga diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan membuang sampah.
"Melalui Journey into Sustainability, kami ingin menunjukkan bahwa limbah memiliki potensi jika dikelola dengan tepat, sekaligus mendorong kesadaran publik untuk terlibat dalam solusi," ujar Tamara Gondo, CEO Liberty Society.
Selain menghadirkan instalasi visual, ruang ini juga dirancang sebagai wadah edukasi interaktif. Pengunjung dapat mengeksplorasi proses daur ulang berbagai material di area Upcycled Museum serta berpartisipasi langsung dalam aktivitas kreatif di Repair Station, seperti mempersonalisasi tas dengan aksesori ramah lingkungan.
Keterlibatan publik turut diperkuat melalui penyediaan fasilitas pemilahan sampah atau dropbox station.
Pengunjung dapat menyalurkan berbagai jenis limbah seperti kemasan kosmetik, plastik, botol, hingga kertas agar masuk ke dalam siklus daur ulang yang sesuai. Kehadiran fasilitas ini diharapkan mempermudah masyarakat dalam menerapkan kebiasaan memilah sampah dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, instalasi partisipatif seperti Tree of Hope memungkinkan pengunjung menyampaikan harapan mereka terhadap masa depan lingkungan, sementara area foto berbasis elemen alami turut memperkuat pesan visual tentang keberlanjutan.
Acara kerja sama Liberty Society dengan MOP Beauty itu dilengkapi dengan sesi diskusi edukatif serta kegiatan khusus yang bertepatan dengan Hari Bumi pada 22 April, sebagai momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga lingkungan.
Melalui pendekatan kreatif dan partisipatif, inisiatif ini menegaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Edukasi, perubahan perilaku, serta kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci dalam mengurangi dampak lingkungan dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/sampahasita11111.jpg)