Hidayat Nur Wahid: Mempelajari Bahasa Arab, Mencintai Bahasa Indonesia
Masyarakat di seluruh dunia memperingati tanggal 18 Desember sebagai Hari Bahasa Arab Internasional sesuai dengan ketetapan UNESCO, badan dunia yang m
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Masyarakat di seluruh dunia memperingati tanggal 18 Desember sebagai Hari Bahasa Arab Internasional sesuai dengan ketetapan UNESCO, badan dunia yang mengurus masalah pendidikan, sains dan kebudayaan. Inisiatif awal datang dari Maroko dan Arab Saudi agar bahasa Arab diakui sebagai bahasa antarbangsa, karena dipakai setidaknya oleh 422 juta penduduk dunia.
Pada tahun 1973, bahasa Arab resmi terdaftar dalam kesepakatan UNESCO dan berada pada ranking ke-6 dari 22 bahasa di seluruh dunia.
Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa internasional yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi ilmiah karena kontribusinya dalam ilmu pengetahuan seperti kimia, aljabar, kedokteran, filsafat dan ilmu-ilmu modern lainnya. A.J. Ayers, salah seorang pakar bahasa Inggris, mengakui kontribusi bahasa Arab terhadap istilah bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Antara lain ia mencontohkan seperti terma: cotton, admiral, syrup, assassin, algebra, alcohol, dan lainnya yang diserap dan diadaptasi dari bahasa Arab.
Pada tahun 1978, Russel Jones mempublikasikan hasil penelitiannya tentang pengaruh bahasa Arab bagi bahasa Indonesia, dalam sebuah buku berjudul “Loan: Words in Indonesian and Malay”. Ia menyebutkan ada 2.750 lema bahasa Indonesia yang diserap dari kosakata bahasa Arab.
Baca: Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid: MPR Bukan Majelis Pervotingan Rakyat
Faktanya memang sulit memisahkan antara bahasa Arab, Islam dan Indonesia. Kehadiran para saudagar Arab pada abad ke-7 sampai 8 Masehi dengan tujuan berdagang, dan menyebarkan Islam di masyarakat Indonesia, memiliki pengaruh sejarah kuat dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, agama dan bahkan politik di Indonesia. Pengaruh itu menjalar ke aspek bahasa sebagai alat komunikasi.
Awalnya, masyarakat Indonesia berinteraksi dengan bahasa Arab dalam konteks tujuan keagamaan, mulai dari membaca Alquran, mengkaji ilmu-ilmu Islam, mempraktikkan ajaran Islam seperti shalat, serta doa yang seluruhnya sangat erat dengan bahasa Arab.
Ketika itu, pengajaran bahasa Arab berlangsung di berbagai lembaga informal seperti masjid, mushalla dan juga rumah-rumah warga Muslim, lalu meluas ke lembaga pendidikan formal tradisional melalui pesantren dan madrasah. Interaksi ini kemudian membawa pengaruh asimilasi budaya Arab ke dalam budaya Indonesia, yang tentu berpengaruh juga pada aspek bahasa.
Bahasa Arab di Indonesia pernah mengalami masa kemunduran. Penjajah Belanda berusaha menghapus alfabet Arab dari tradisi ilmiah sekolah Indonesia dan menggantinya dengan huruf Latin.
Mereka berusaha memperpendek peran bahasa Arab dalam kehidupan masyarakat Indonesia secara sistematis. Di era kolonial, bahasa Arab hanya diajarkan di lembaga-lembaga tradisional yang terbatas pada memahami literatur agama saja -dan sebagiannya melalui metode penerjemahan–sehingga tidak mencakup keterampilan siswa untuk mendengarkan, keterampilan menulis, dan keterampilan berbicara bahasa Arab. Bahasa Arab dikesankan hanya milik “kaum sarungan” di pesantren dan tidak layak dipelajari “kaum priyayi” atau kaum berpendidikan.
Baca: Bamsoet: Salah Satu Tugas Penting MPR RI Menjaga Kesejukan Suhu Politik Tanah Air
Di era tahun 1930-an terjadi gerakan pembaruan di lembaga tradisional yang mulai mengajarkan ilmu umum, seperti matematika, ilmu alam, geografi dan bahasa Inggris yang dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Ketika itu, bahasa Arab juga mulai diajarkan secara lebih baik di lembaga-lembaga pendidikan formal. Akan tetapi, sayangnya lembaga tradisional pada umumnya tetap berpegang pada tradisi lama yang mengutamakan lingkup pengajaran bahasa Arab hanya pada aspek keagamaan, fokus pada kajian kitab, yang metodologinya lebih kepada penerjemahan.
Di tahun 1926, berdiri Pondok Pesantren Daarussalam Gontor Ponorogo yang melakukan terobosan baru dalam pengajaran bahasa Arab, dimana semua penghuni pondok baik guru dan murid merupakan santri yang wajib menguasai dan berbicara bahasa Arab. Pondok Gontor sejak awal berdiri mempertahankan budaya dan tradisi berbahasa Arab yang terus digulirkan melalui berbagai program regular pekanan, dimana setiap santri diwajibkan berbicara dengan bahasa Arab dalam rentang waktu tertentu. Tradisi baik ini kemudian diikuti oleh sejumlah pesantren di seluruh Nusantara.
Pengajaran bahasa Arab di Indonesia terus mengalami perkembangan. Meskipun dalam rumusan hasil seminar Politik Bahasa Nasional (PBN) tahun 1975, sama sekali belum disebut keberadaan bahasa Arab yang memberi kontribusi membesarkan bahasa Nasional, tapi pada PBN tahun 1999 disebutkan dan diakui peran bahasa Arab sebagai salah satu sumber asing yang menjadi sumber memperkaya perbendaharaan kata bahasa Indonesia.
Baca: Bamsoet Pilih Jadi Suami yang Baik Ketimbang Maju Jadi Calon Presiden 2024
elanjutnya, pengajaran bahasa Arab dimulai dan diawasi oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, yang didukung oleh para pakar bahasa dari dalam dan luar negeri. Sejumlah laboratorium bahasa Arab dimiliki berbagai lembaga pendidikan formal, utamanya di Universitas Islam Negeri, yang lebih mendekatkan siswa kepada pemahaman audio dan berbicara dalam mempelajari bahasa Arab.
Peran pemerintah Saudi menyokong perkembangan bahasa Arab di Indonesia juga tak mungkin diabaikan. Tahun 1981, kerajaan Saudi Arabia mendirikan Lembaga Pengajaran Bahasa Arab yang kemudian menjadi Universitas Muhammad Ibnu Saud, di Jakarta. Lembaga ini juga dikenal dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA) yang mendatangkan para dosen pengajarnya berasal dari negara-negara Arab sebagai native speakers.
Akar pengaruh bahasa Arab di dalam bahasa Indonesia, bahkan tercermin dalam falsafah dasar Negara. Dalam merumuskan Pancasila yang memerlukan pemikiran dan pandangan jauh ke depan tentang tafsir berbangsa, ternyata para pendiri bangsa Indonesia, juga memberi pilihan kata yang merupakan serapan dari kosa kata bahasa Arab.

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/mpr-ri-cinta-bahasa-arab.jpg)