Breaking News:
Majelis Perwakilan Rakyt Republik Indonesia

Bamsoet Bicara Bencana Alam, Pandemi dan Urgensi Perbaikan Ekosistem

Menurut Bamsoet, bencana alam yang terus berulang merupakan panggilan kepada semua orang untuk peduli urgensi memulihkan keseimbangan ekosistem.

IST
Banjir bandang disertai lumpur di kawasan Gunung Mas, Cisarua, Puncak, Jawa Barat, Selasa (19/1/2021) pagi. 

Sedikitnya enam gunung berapi dalam status siaga atau waspada. Antara lain gunung Api Ili Lewotolok (Lembata, Nusa Tenggara Timur), Gunung Api Merapi (Jawa Tengah), Gunung Api Sinabung (Sumatera Utara), Gunung Api Karangetang (Sulawesi Utara),  Gunung Api Semeru (Jawa Timur) dan Gunung Api Anak Krakatau (Lampung).

Bamsoet melanjutkan, semua orang, baik yang sudah terdampak maupun belum terdampak bencana alam serta terpapar Covid-19, bisa merasakan langsung betapa alam semesta dan lingkungan hidup semakin kurang bersahabat.

"Tak hanya bencana, alam semesta juga menghadirkan ragam virus yang merusak kesehatan manusia. Sebaliknya, sejak puluhan tahun lalu, para ahli sudah mengingatkan bahwa manusia telah bertindak sembrono terhadap bumi. Agresifitas manusia mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) menyebabkan terjadinya kerusakan atau ketidakseimbangan ekosistem. Ketidakseimbangan itu menjadi sumber bencana dan pembiakan ragam virus," tulisnya lagi.

Rusaknya lingkungan hidup atau ekosistem sudah dibahas selama beberapa dekade oleh para ahli. Sudah banyak pula Inisiatif memperbaiki ekosistem. Ekosistem memiliki daya atau kemampuan untuk memperbaiki atau meregenerasi kerusakan.

Sayangnya, lanjut Bamsoet, bersamaan dengan munculnya inisiatif perbaikan itu, manusia tetap saja agresif mengeksploitasi SDA. Kerusakan ekosistem pun semakin parah, dan akibatnya sebagaimana dirasakan semua orang sekarang ini. Bencana alam silih berganti, dan virus-virus yang mengancam kesehatan manusia terus bermunculan.      

"Selain Virus corona, banjir besar yang melanda beberapa wilayah di tanah air merupakan akibat dari ketidakseimbangan ekosistem. Ekosistem layak dipahami sebagai sebuah tatanan utuh antara semua mahluk hidup dengan lingkungannya. Ketika lingkungan rusak dan kehilangan keseimbangannya, kemungkinan yang muncul adalah malapetaka. Penebangan pohon atau penggundulan hutan menyebabkan hilangnya kemampuan akar tumbuhan di hutam menyerap air. Ketika curah hujan tinggi, air hujan yang luber akan mendorong sampah dan material bebatuan menerjang pemukiman manusia," ungkap Bamsoet. 
                                                           
Banjir bandang di Gunung Mas, Puncak, Bogor, beberapa hari lalu, setidaknya menjadi bukti akibat dari ketidakseimbangan ekosistem.  Begitu juga banjir besar yang melanda beberapa wilayah di pulau Kalimantan. Akibat penebangan pohon dan penggundulan, hutan di Kalimantan tak mampu lagi menyerap air.     

Seperti halnya bencana alam yang terus berulang, virus SARS-CoV-2 penyebab infeksi Covid-19 dipastikan bukanlah yang terakhir.  Virus-virus baru yang mengancam kesehatan manusia berpotensi muncul lagi di kemudian hari sebagai reaksi bumi akibat ketidakseimbangan alam semesta.

Maka, bencana alam yang terus berulang dan krisis kesehatan sekarang ini layak dimaknai sebagai pangilan kepada semua orang untuk peduli dan mulai bekerja memulihkan keseimbangan ekosistem. (*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved