Geopolitik Indonesia
Anggota MPR Ingatkan Dampak Geopolitik BOP terhadap Ekonomi dan Ketahanan Pangan RI
Johan Rosihan ingatkan pemerintah agar cermat sikapi isu BOP demi jaga kedaulatan dan stabilitas ekonomi.
TRIBUNNEWS.COM - Isu mengenai kemungkinan Indonesia keluar dari Board of Peace (BOP) memicu perhatian berbagai kalangan.
Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, langkah diplomatik Indonesia dinilai harus dilakukan secara hati-hati, dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi, fiskal, dan ketahanan pangan nasional.
Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Fraksi PKS MPR RI, Johan Rosihan, S.T., dalam keterangan tertulisnya, Rabu (25/3/2026).
Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI ini juga menegaskan bahwa isu tersebut perlu disikapi secara jernih dan proporsional. Ia mengingatkan bahwa tidak semua narasi global memiliki dasar institusional yang kuat, tapi tetap perlu dianalisis secara serius.
“Setiap isu yang menyangkut posisi Indonesia dalam percaturan geopolitik layak dikaji secara mendalam. Sebab, dampaknya bisa menjangkau sektor ekonomi, sosial, dan stabilitas nasional,” ujar Johan.
Menurutnya, dunia saat ini tengah memasuki fase baru yang ditandai dengan meningkatnya rivalitas antarkekuatan besar, fragmentasi perdagangan global, serta konflik kawasan. Kondisi ini membuat setiap keputusan diplomatik menjadi sangat sensitif.
Indonesia, lanjut Johan, berada pada posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik dan menjadi titik persilangan berbagai kepentingan global. Oleh karena itu, setiap langkah yang diambil harus memperhitungkan konsekuensi jangka panjang.
“Indonesia tidak berada di pinggiran, tetapi di pusat dinamika global. Setiap keputusan akan berdampak pada posisi kita di mata dunia,” kata Johan.
Baca juga: Johan Rosihan Gandeng Lembaga Penelitian MY Institute Gagas Sekolah Pilar Muda untuk Generasi Muda
Antara Tekanan Global dan Kepentingan Nasional
Pernyataan keras Donald Trump terkait kemungkinan konsekuensi jika Indonesia keluar dari BOP mencerminkan perubahan karakter hubungan internasional yang kian bersifat transaksional.
Dalam dinamika global saat ini, komitmen antarnegara tidak lagi semata-mata dipandang sebagai kesepakatan normatif, melainkan sebagai instrumen untuk menjaga kepentingan ekonomi dan geopolitik masing-masing pihak.
Situasi ini, kata Johan, menempatkan Indonesia pada posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, Indonesia perlu menjaga hubungan baik dengan mitra strategis seperti Amerika Serikat yang memiliki pengaruh besar dalam sistem ekonomi global.
Namun, di sisi lain, Indonesia juga dituntut untuk tetap menjaga kedaulatan dalam menentukan arah kebijakan luar negeri.
Johan menilai, risiko terbesar dalam kondisi ini adalah terjebaknya Indonesia pada pilihan yang sempit, antara tunduk pada tekanan global atau mengambil langkah konfrontatif tanpa perhitungan matang.
"Kedua opsi tersebut berpotensi merugikan kepentingan nasional, baik dalam bentuk erosi kedaulatan maupun instabilitas politik dan ekonomi," terang Johan.
Dalam praktiknya, Johan melihat banyak negara berkembang menghadapi dilema serupa. Mereka harus mampu menavigasi tekanan dari kekuatan besar sambil tetap mempertahankan ruang kebijakan domestik.

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Johan-Rosihan.jpg)