Bamsoet Apresiasi Kepemimpinan Prabowo, Indonesia Capai Swasembada Beras Ketiga Kalinya
Bamsoet apresiasi Presiden Prabowo atas swasembada beras 2025, tonggak ketahanan pangan nasional Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman atas keberhasilan Indonesia mewujudkan swasembada beras pada tahun 2025. Pencapaian tersebut dinilai sebagai tonggak penting dalam sejarah ketahanan pangan nasional, sekaligus membuktikan bahwa komitmen politik yang kuat dapat menghasilkan capaian nyata dalam waktu relatif singkat.
Dengan tercapainya swasembada beras di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia tercatat telah meraih swasembada beras untuk ketiga kalinya. Capaian pertama diraih pada masa pemerintahan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, pada tahun 1984. Saat itu, produksi beras nasional mencapai sekitar 27 juta ton dengan konsumsi sebesar 25 juta ton. Atas keberhasilan tersebut, Indonesia menerima penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 1985.
Baca juga: Bamsoet Nilai Pemerintahan Prabowo Tutup 2025 dengan Fondasi Ekonomi dan Pangan yang Kian Kuat
Setelah itu, 24 tahun kemudian, Indonesia kembali mencapai swasembada beras pada tahun 2008 di era pemerintahan Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Kini, setelah 17 tahun berlalu, di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa (7/1), Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa produksi beras nasional sepanjang 2025 mencapai sekitar 34,7 juta ton. Angka tersebut melampaui kebutuhan nasional yang berada di kisaran 30–31 juta ton per tahun. Dengan capaian ini, Indonesia untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir memiliki surplus beras yang signifikan.
“Swasembada beras tahun 2025 patut dimaknai sebagai prestasi luar biasa, karena hal tersebut bisa diraih di tengah tantangan yang tidak mudah. Alih fungsi lahan pertanian yang masih masif, tekanan perubahan iklim yang menggeser pola musim tanam, hingga penguatan harga pangan global menjadi tantangan serius yang harus dihadapi sektor pertanian nasional,” ujar Bamsoet di Jakarta, Kamis (8/1/25).
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menuturkan, dengan terwujudnya swasembada beras, Presiden Prabowo telah memenuhi janjinya pada aspek ketersediaan dan keamanan pangan nasional. Saat pelantikan sebagai Presiden RI, Prabowo secara terbuka menargetkan swasembada pangan dapat tercapai dalam waktu empat tahun. Namun, melalui kebijakan konsolidasi, penguatan petani, peningkatan produksi, serta distribusi sarana pertanian yang lebih terarah, swasembada beras berhasil dicapai hanya dalam satu tahun pemerintahan.
“Ini menunjukkan bahwa dengan kepemimpinan yang fokus dan eksekusi yang disiplin, agenda strategi nasional dapat dipercepat,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini mengingatkan bahwa keberhasilan di sisi produksi harus segera diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat luas. Swasembada beras tidak boleh berhenti sebagai angka statistik atau klaim keberhasilan semata. Nilai tambah yang paling diharapkan masyarakat adalah harga beras yang stabil dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Harapan masyarakat sangat sederhana. Ketika beras berlimpah, harga di pasar harus masuk akal, tidak membebani rumah tangga, terutama masyarakat ekonomi rendah,” jelas Bamsoet.
Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran ini mendorong kementerian dan lembaga terkait untuk merumuskan kebijakan lanjutan yang memastikan surplus produksi beras berbanding lurus dengan keterjangkauan harga. Penguatan cadangan beras pemerintah, optimalisasi peran Bulog dalam stabilisasi harga, serta pengawasan distribusi dari hulu ke hilir menjadi kunci agar swasembada benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat.
Selain itu, pengamanan pasar beras perlu dilakukan secara serius. Ia meminta Satuan Tugas Pangan bersama aparat penegak hukum agar lebih aktif menindak praktik-praktik yang merugikan konsumen, seperti penimbangan biologi, pengoplosan beras, hingga permainan harga di tingkat distributor dan pengecer.
“Manipulasi timbangan dan pengoplosan beras adalah kejahatan terhadap masyarakat. Setelah swasembada tercapai, jangan sampai konsumen kembali dirugikan oleh ulah oknum pedagang yang mencari keuntungan dengan cara curang,” tegas Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menambahkan bahwa keberhasilan swasembada beras harus menjadi momentum untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap negara dalam mengelola sektor pangan. Negara tidak hanya sekadar memastikan kecukupan produksi, tetapi juga menjamin keadilan pasar dan perlindungan bagi konsumen.
“Jika produksi kuat, terdistribusi secara tertib, dan harga terkendali, maka swasembada beras akan benar-benar menjadi fondasi kokoh bagi ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan rakyat,” pungkas Bamsoet. (*)
Baca juga: Catatan Politik Bamsoet dan Proyeksi 2026: Jaga Kondusifitas Negara Demi Martabat Negara

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Bamsoet-Apresiasi-Kepemimpinan-Prabowo-Indonesia-Capai-Swasembada-Beras-Ketiga-Kalinya.jpg)