Minggu, 24 Mei 2026

Aktivis Kemanusian Diserang

Istri Relawan MER-C Tak Berani Tonton TV

Mudmainah terpukul, dan masih syok. Menonton televisi saja dia belum berani setelah menerima kabar duka, kapal Mavi Marmara yang mengangkut suaminya Nur Ikhwan Abadi (29), relawan Medical Emergency Rescue Committe, ditembaki serdadu Israel di laut Gaza.

Tayang:
Editor: Prawira
Laporan wartawan Tribunnews.com, Domu Ambarita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mudmainah terpukul, dan masih syok. Menonton televisi saja dia belum berani setelah menerima kabar duka, kapal Mavi Marmara yang mengangkut suaminya Nur Ikhwan Abadi (29), relawan Medical Emergency Rescue Committe, ditembaki serdadu Israel di laut Gaza. Saat ini, ibu dua anak tersebut berusaha ditenangkan pada ustadz dan Pengurus Pondok Pesantren Al Fatah, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

"Istrinya Nur Ikwan, ibu Mudmainah masih syok. Wajar memang ibu-ibu kalau mendengar kabar duka, biasanya begitu. Beliau belum berani memberi pernyataan, menonton TV saja belum berani sampai sekarang," ujar Sekeretaris Pondok Pensantren Al Fatah, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ustadz Ali Farhan dalam perbincangan via telepon dengan tribunnews.com.

Perasaan Mudmainah, kata Ustadz Ali Farhan, tidak keruan setelah mendapat kabar tindakan penyerangan tentara Israel kepada kapal yang mengangkut ratusan relawan dari bermacam- macam negara yang membawa bantuan kemanusiaan ke Palestina, Senin lalu. "Kami membantu ibu Mudmainah masih berusaha menenangkan diri, sambil terus mengontak ke MER-C dan Menlu," kata Ali.

Dia mengungkapkan, Nur Ikhwan merupakan pengurus Pondok Pesantren Al-Fatah. Dia bergabung sejak lima tahun terakhir, setelah lulus dari Fakultas Teknik Sipil Universitas Lampung. Nur dan Mudmainah masih pasangan usia subur, dengan dua anak usia di bawah lima tahun.
Aktivitas sehar-hari Nur Ikwan selain mengurusi pondok, juga termasuk terlibat kelompok bimbingan ibadah haji dan umroh (KBIH) Al Fatah. Ada pun istrinya, Mudmainah, bekerja sebagai perawat klinik kesehatan juga di Al Fatah.

Sedari bekerja di Al Fatah, pondok pesantren yang sangat peduli dengan Palestina, Nur Ikhwan beberapa kali bekerja sama dengan MER-C. Dia pernah ikut menjadi relawan untuk korban gempa Padang 2009. "Dia berangkat bersama tim relawan MER-C sekitar 10 harai lalum" kata Ali.
Ia menuturkan, sehari sebelum kejadian naas, kapal pembawa bantuan diserbu serdadu Israel, Nur Ikhwan msih berkomunikasi dengan istrinya' "Sehari sebelum kejadian, Pak Nur Ikhwan masih SMS-an dengan istrinya, mengasih tahu kabar, dan juga menanya kabar keluarga di sini. Ke saya sendiri, dua hari sebelumnya juga mengirim kabar lewat email," kata Ali sembari memanjatkan doa, kiranya Nur Ikhwan tetap selamat dan sehat. (Tribunnews.com/Domu d Ambarita)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved