Penganiayaan Aktivis ICW
Fariz Diperiksa Seputar Kejadian Sebelum Penganiayaan
Sebelum kejadian penganiayaan Tama S. Langkun di Jl. Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada 8 Juli lalu
Peneliti Hukum ICW itu mengaku, beberapa hari sebelum kejadian penganiayaan Tama, ia dan beberapa rekannya yang hendak pergi ke sebuah Mal di bilangan Kalibata, pernah dikuntit oleh beberapa orang yang mengendarai dua motor. Namun Fariz mengaku bahwa ia tidak sempat melihat wajah dari penguntitnya itu.
Ia juga sempat menemui seseorang yang mengaku wartawan Kompas bernama Roni, yang menunggu tidak jauh dari kantor ICW. Namun Fariz mengaku hanya melihat wajah Roni sekilas.
"Wajahnya agak "chuby" (gemuk), rambutnya pendek, dan tidak berkumis," ujar Fariz menyebutkan ciri-ciri orang yang mengaku wartawan itu, usai ia menjalani pemeriksaan di Polres Selatan, Senin (19/07/2010).
Selain itu, Fariz juga sempat mencatat nomor polisi dari Mobil Inova berwana hitam yang saat itu dibawa Roni, yaitu B 1679 PFR. Namun setelah diperiksa oleh pihak kepolisian, nomor tersebut diketahui palsu.
"Kalau nopol itu sebenarnya mobilnya hyundai bukan innova." ujar Fariz mengutip keterangan penyidik.
Siang ini Fariz disodorkan oleh tujuh belas pertanyaan berkisar sebelum kejadian, serta kemungkinan motif konflik internal seputar penganiayaan Tama. Namun Fariz menampik kemungkinan motif konflik internal tersebut.
"Saya jawab tidak ada, karena saya setiap hari di kantor tidak (menemui) ada kejadian aneh atau konflik pribadi," pungkasnya.
Selain Tama, hari ini yang ikut diperiksa adalah Febri Diansyah dan Adnan Topan Husodo. Seharusnya, salah seorang peneliti ICW lainnya, Ade Irawan juga dijadwalkan diperiksa, akan tetapi karena yang bersangkutan tengah berada di Australia, maka ia tidak bisa mengikuti pemeriksaan.
Hingga berita ini diturunkan, Tama masih menjalani pemeriksaan di ruang Satreskrim, lantai 3 Polres Jakarta Selatan. Mengenai substansi pertanyaan terhadap Tama, Fariz mengaku tidak tahu, pasalnya ia diperiksa di ruangan yang berbeda.