Rabu, 10 Juni 2026

Wartawan Kompas Meninggal

Ini Tulisan M Syaifullah Mengkritisi Lingkungan Hidup

Berikut ini tulisan wartawan Kompas biro Kalimantan, M Syaifullah (43) alias Iful yang ditemukan meninggal dunia mencurigakan, Senin (26/7/2010).

Tayang:
Editor: Iswidodo

Negara lebih memilih membawa batu bara di sana keluar, tanpa memedulikan krisis listrik di Kalsel.

Dinas Pertambangan dan Energi Kalsel mencatat, ada 222 desa yang belum teraliri listrik di daerah ini. Warga yang dibekap gelap ini hanya bisa menyaksikan cahaya benderang dari lubang-lubang tambang yang terus dikeruk selama 24 jam.

Pegunungan Meratus mencakup sembilan dari 13 kabupaten/kota di Kalsel dengan luas mencapai 1,6 juta hektar. Hutan alam yang masih bertahan kurang dari 500.000 hektar.

Kini, pegunungan yang berada pada ketinggian 100 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut itu justru menjadi ajang terbesar penambangan batu bara dan biji besi. Hanya dua di antara sembilan kabupaten di Kalsel yang belum mengeluarkan izin kuasa pertambangan, yakni Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah.

Sudah ratusan izin penambangan yang dikeluarkan untuk mendapatkan emas hitam itu di sana. Tidak heran bila sebagian kawasan pegunungan rusak. (FUL)

=============================================

Limbah Pertambangan Batu Bara Cemari Sungai Balangan
Laporan wartawan KOMPAS M Syaifullah
Selasa, 27 Oktober 2009

BALANGAN, KOMPAS.com — Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, sejak Jumat (23/10) meminta warga yang bermukim dan melakukan aktivitas di sepanjang Sungai Balangan untuk tidak mengonsumsi air sungai tersebut.

Hal ini dilakukan menyusul airnya tercemar limbah kegiatan tambang batu bara yang meluap dari kolam pengendapan (settling pond/SP) bernomor SP 6B milik perusahaan batu bara, PT Adaro Indonesia, ke Sungai Belerang, anak Sungai Balangan, akibat hujan lebat, hari Kamis (22/10) malam.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kalimantan Selatan (Kalsel) Rahmadi Kurdi yang dihubungi Kompas dari Balikpapan, Selasa (27/10), mengatakan, imbauan itu oleh Dinas Lingkungan Hidup Balangan dilakukan karena sungai tercemar. "Meskipun kejadian karena ada faktor alam, yakni hujan lebat, namun perusahaan pertambangan PT Adaro Indonesia tetap harus bertanggung jawab," katanya.

External Relation Manager PT Adaro Indonesia Yunizar Andriansyah mengatakan, meluapnya limbah tambang tersebut bukan karena kolam pengendapan jebol, melainkan kolam bernomor SP 6B itu tidak mampu menampung air dari hujan pada malam itu karena masih dalam tahap konstruksi. (FUL)

=============================================

Warga Dilarang Konsumsi Air Balangan karena Tercemar
Laporan wartawan KOMPAS M Syaifullah
Selasa, 27 Oktober 2009

BALANGAN, KOMPAS.com- Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, sejak Jumat (23/10) meminta warga yang bermukim dan melakukan aktivitas di sepanjang Sungai Balangan untuk tidak mengonsumsi air sungai tersebut.

Hal ini dilakukan menyusul airnya tercemar limbah kegiatan tambang batu bara yang meluap dari kolam pengendapan (settling pond/SP) bernomor SP 6B milik perusahaan batu bara, PT Adaro Indonesia, ke Sungai Belerang, anak Sungai Balangan, akibat hujan lebat, hari Kamis (22/10) malam.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved