Kamis, 8 Januari 2026

Lebih Dekat dengan Hakim Kasus Susno Duadji

Membaca Buku Jadi Kebutuhan Wajib (III)

Hakim bisa dibenci dan disenangi. Begitulah adanya. Itu diakui Haswandi. Tak selamanya putusan yang ia buat menyenangkan semua pihak

Penulis: Y Gustaman
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yogi Gustaman

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hakim bisa dibenci dan disenangi. Begitulah adanya. Itu diakui Haswandi. Tak selamanya putusan yang ia buat menyenangkan semua pihak. Harus ada yang kalah dan menang. Ia mengaku, semua itu bisa diatasi dengan memanusiakan terdakwa atau pihak yang terjerat perkara.

Menurut Haswandi, modal pengetahuan, agama, sosiologis dan pelajaran moral sangat membantu. Inipula yang membuat ucapan hakim dapat diterima terdakwa kendati putusan yang diterimanya cukup berat.

"Maka jangan pernah mencap terdakwa sebagai penjahat. Mereka harus kita manusiakan," katanya.

Moral agama, kata Haswandi, menjadi modal utama sebagai hakim. Tak jarang, dalam persidangan ayah empat anak ini selalu menyelipkan sentuhan-sentuhan moral agama seperti dosa dan neraka, kejujuran dan kebohongan, dan lain sebagainya. Oleh koleganya, Haswandi pernah disebut sebagai hakim yang pendakwah.

Itu sebabnya, pertimbangan seorang hakim tidak semata pada alasan yuridis, tapi mempertimbangkan alasan moral, filosofis, sosilogis dan segalanya. Menurut Haswandi, hukum tak pernah bisa berjalan sendiri. Baik hukum dan agama harus seiring, sejalan berdampingan.

Ia mengakui, tegaknya hukum semata tak mengurangi jumlah tahanan. Karenanya, hukum selalu harus didukung moral agama. Haswandi tetap yakin, dengan memanusiakan mereka yang terduga melakukan kesalahan apapun putusannya akan tetap diterima.

"Paling, masyarakat kita ini belum punya budaya menerima kekalahan. Inilah yang harus pelan-pelan disosialisasikan. Sehingga kalaupun tidak puas bisa mengupayakan proses hukum selanjutnya," katanya.

Sempitnya waktu bagi seorang hakim tak dipungkiri Haswandi. Tapi itu tak mematahkan seorang hakim harus berpengetahuan luas, menambah lewat pendidikan formal ataupun informal. Inilah yang mendorong Haswandi tetap belajar di samping waktu luangnya.

Satu keharusan yang tak bisa ditinggalkan suami dari dokter Elfi Sumarni Bunas ini adalah harus selalu mengunjungi toko buku tiap kali singgah di sebuah kota. "Saya datang ke kota manapun, saya usahakan mampir di toko buku," cerita Haswandi.

Memang, tak semua buku yang ia beli saat itu harus juga dibaca habis. Alasannya memilih buku, kata Haswandi, dapat berguna di suatu waktu dirinya membutuhkan pengetahuan yang ada di dalamnya. Di sinilah proses pengetahuannya bertambah.

"Memamg, mayoritas buku yang saya suka beli adalah buku-buku hukum, yang mendukung tugas saya. Tapi juga ada buku pengetahuan umum lainnya," katanya.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved