Theo Syafei Wafat
Semasa Hidup, Theo Syafei Penentang Soeharto
Almarhum Mayjen purnawirawan Theo Syafei dikenal berani menentang kepemimpinan Soeharto. Sekitar tahun 1997, dia meminta mengganti gambar Soeharto.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekitar tahun 1997, almarhum Mayjen purnawirawan Theo Syafei pernah membuat pernyataan yang akhirnya menggiring runtuhnya era pemerintahan Orde Baru yang dinahkodai Soeharto.
Ketika itu, saat menjadi tamu seminar yang diadakan di Universitas Petra, Surabaya, Theo Syafei ditanya soal gejolak aksi para mahasiswa yang terjadi. Dengan singkat, Theo Syafei berujar, "Ganti saja gambar di duit." Pernyataan Theo ini ditujukan kepada selembar duit yang bergambar Presiden Soeharto.
Kini, sang jendral pendiam itu telah pergi. Ia menghembuskan nafas terakhir di rumahnya di Jalan Raya Mabes Hankam No T 65 Cilangkap, Jakarta Timur. Theo Syafei meninggal pada Jumat dini hari (29/04/2011), jam 00.45 akibat penyakit kanker yang sudah lama dideritanya.
Theo Syafei sempat bolak-balik Jakarta Singapura untuk mengobati sakit yang dideritanya. Sempat lama dirawat di sebuah rumah sakit di Singapore dan sempat menjalani perawatan RSCM Jakarta.
Bagi keluarga besar PDI Perjuangan, sosok Theo Syafei adalah tokoh penting. Terakhir, dialah yang menyusun strategi pemenangan Megawati-Prabowo saat Pilpres 2009 lalu.
Jendral pemikir, dan tak banyak bicara. Tribunnews.com sempat mewawancarai Theo Syafei saat dirinya mempertemukan Megawati dengan mantan Kapolri Jendral Polisi Bimantoro. Ketika itu, ia membantah membentuk sebuah tim siluman bagi pemenangan Megawati.
"Tim siluman itu, di Indonesia sudah ada di sinetron. Jadi, sudah tidak ada lagi tim siluman. Kalau ditanya strategi, kalau dibilang, ya bukan strategi lagi dong,” kata Theo Syafei ketika itu.
Sekitar tahun 1995-1996, Theo Syafei adalah jendral TNI yang mempelopori para perwira TNI memilih jalur politik di PDI Perjuangan.
Keputusan Theo masuk dan gabung PDI di awal menyebabkan gerbong mantan TNI dan Polri berduyun-duyun hijrah ke PDI Perjuangan. Diantaranya, Mayjen RK Sembiring Meliala, dan Mayjen Pol Sidarto Danusubroto.