Kemiskinan Adalah Persemaian Konflik Horizontal
Seorang pemimpin umat di Indonesia harus memiliki pola pikir yang berwawasan pluralisme.
Laporan Wartawan Tribun Jogja M Huda
TRIBUNNEWS.COM, MAGELANG – Seorang pemimpin umat di Indonesia harus memiliki pola pikir yang berwawasan pluralisme. Hal itu penting mengingat Indonesia bukanlah negara yang memiliki satu agama.
Selain itu dari ribuan pulau yang tersebar di berbagai penjuru tanah air, dari situ pula muncul berbagai suku, etnis, dan kebudayaan, mengharuskan penduduknya untuk tetap mempertahankan Pancasila yang dibangun oleh segenap rakyat Indonesia dalam bingkai Bhineka Tunggal Eka.
Demikian kesimpulan seminar kebangsaan yang bertajuk “Penghayatan Pendidikan Imamat dalam Wawasan Pluralisme”, yang digelar di Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan Magelang, Sabtu (23/7/2011).
Hadir sebagai pembicara antaralain, Cendekiawan NU dan Chairman Moderate Muslim Society, Zuhaeri Misrawi, Wasekjen PP Pemuda Muhammadiyah, Teguh Santosa, Anggota Komisi II DPR RI, Basuki Tjahya Purnama atau Ahok, Tokoh Masyarakat dari GKTI Taman Yasmin, Bogor, Markus Kurniawan Hidayat, dan Wapemred Harian Kompas, Trias Kuncahyono. Dan bertindak sebagai moderator, adalah Rektor Universitas Atmajaya Yogyakarta, Maryatmo.
Tegus Santosa mengatakan, “Bahwa kemiskinan adalah persemaian atas munculnya sebuah konflik horisontal,”.
Menurutnya, kemiskinan yang melanda Indonesia adalah penyebab utama maraknya konflik horisontal yang ada di tengah masyarakat. Dan bukanlah persolan agama yang sebenarnya menjadi penyebabnya.
Pancasila adalah sebuah tesis yang sangat ilmiah dan bisa diwujudkan buktinya, sayangnya saat ini kebanyakan mengganggap itu tidak ada artinya, hal itu disebabkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hidup. Dan mereka hanya memahaminya dalam bentuknya saja tidak dalam arti yang sebenarnya.
Dalam seminar yang sebagian besar peserta adalah dari anak didik Seminari St Petrus Canisius Mertoyudan, dan beberapa tokoh perwakilan agama itu, Zuhaeri Misrawi mengatakan bahwa seorang Patur harus mengenali tradisi dan budaya orang lain, selain itu Pastur juga harus menjiwainya. “Karena sebenarnya pastur mempunyai jiwa yang plural dan terbuka untuk memahami orang lain, “ katanya.
Menurutnya, pluralisme dalam kehidupan beragama merupakan suatu suatu keniscayaan. Apabila pluralisme diharamkan, maka masa depan bangsa ini semakin menghawatirkan.
Markus Kurniawan Hidayat juga menambahkan, mulai saat ini hendaknya pastur harus membuka diri dan terbuka kepada semua elemen.
Trias Kuncahyono juga mengutarakan, bahwa Pastor harus melek teknologi dan informasi, kalau pastur tidak paham teknologi maka dia akan ketinggalan, karena banyak ilmu bisa dicari di sana, dan bisa memperoleh informasi yang cepat, “Bahkan lebih maju dari pasturnya,” ucapnya.
Kemudian lanjutnya, Pastor juga harus pintar, kalau pastur yang pintar tentunya umatnya juga pintar. Dan Pastor harus tetap suci, karena dia akan menjadi contoh bagi umatnya.
Namun pendidikan generasi tetap nomor satu untuk membentuk masa depan pemimpin bangsa. “Jangan menutup gereja rapat-rapat, harusnya perlu lebih terbuka, tunjukkan keterbukaan dan kepedulian pada umat,” tuturnya.
Ia menegaskan, masyarakat asing sebenarnya sangat kagum pada pancasila, karena bisa mempertahankan berbagai suku, etnis dan agama dalam satu payung.