Aksi Berdarah di KPK
Arifin Wardiyanto Berniat Keluarkan Isi Perutnya di KPK
Arifin Wardiyanto (54), aktivis antikorupsi dan antimafia peradilan independen, yang melakukan aksi silet dahi di depan gedung KPK
Laporan Wartawan Tribun Jogja, Sigit Widya
TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - "Jika cutter tidak direbut petugas kemanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), saya berniat mengeluarkan isi perut. Saya rela bertaruh darah demi kebersihan negeri ini dari para koruptor, mafia peradilan, dan sejenisnya. Darah saya adalah darah merah putih."
Demikian kalimat yang ditegaskan Arifin Wardiyanto (54), aktivis antikorupsi dan antimafia peradilan independen, yang melakukan aksi silet dahi di depan gedung KPK, Kamis (15/9/2011) siang. Laki-laki kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 25 Mei tersebut ingin adanya revolusi hukum di negara ini.
"Aksi yang saya lakukan di depan gedung KPK kemarin untuk mengajak semua elemen masyarakat bertindak melakukan revolusi bagi bangsa ini. Tindakan nyata perlu dilakukan, jangan hanya seminar dan demo enggak jelas," ujar mantan Kepala Cabang Telkom Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul ini kepada Tribun Jogja, Jumat (16/9/2011) sore.
Ia pun menceritakan, kenapa kakinya juga dirantai sebelum menyilet dahi. Menurutnya, aksi merantai kaki tersebut sebagai simbol pelaku tindak korupsi yang tidak bisa lari meski kedua tangannya bebas mencomot rupiah di sana-sini. Selain itu, ia merantai kaki agar petugas kemanan KPK tidak bisa mengangkut atau mengamankannya.
"Makanya saya tidak diciduk, karena kedua kaki diikat rantai. Namun setelah itu, Humas KPK bersedia menemui saya dan melakukan dialog selama setengah jam. Saya yakin, semua ini berkat pertolongan Tuhan," tuturnya.