Breaking News:

Aksi Bakar Diri

Aksi Bouazizi dan Sondang Hutagalung

17 Desember 2010, Bouazizi membakar dirinya di depan kantor Gubernur, dalam hitungan jam berita menyebar, membakar hati dan menyambar

zoom-inlihat foto Aksi Bouazizi dan Sondang Hutagalung
TRIBUNNEWS.COM/Wahyu Aji/TRIBUNNEWS.COM/Wahyu Aji
Sondang Hutagalung, pelaku aksi Bakar diri kini berbaring di ruang Born Unit RSCM, Jakarta. Kamis (8/12/2011) Sondang Hutagalung nekat melakukan aksi bakar diri di Jalan Merdeka Barat, tepat di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (07/11/2011) (TRIBUNNEWS.COM/Wahyu Aji)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - 17 Desember 2010, Bouazizi membakar dirinya di depan kantor Gubernur, dalam hitungan jam berita menyebar, membakar hati dan menyambar kaki jutaan warga Tunisia yang bahkan tidak mengenal Bouazizi untuk turun kejalan dan mengamuk berhari-hari. Dalam dua bulan, Presiden Tunisia Ben Ali terpaksa turun dari tahtanya.                   

7 Desember 2011, aktivis KontraS, Sondang  Hutagalung, membakar dirinya depan Istana Negara dan hingga hari ini setelah tiga hari aksi bakar dirinya hanya mampu membakar hati dan menyambar kaki tidak lebih dari 200 orang mahasiswa.

"Kobar api Sondang menyebar, tapi tidak mampu membakar hati dan menyambar kaki sahabatnya, kawan-kawan kampusnya, dosennya, rekan-rekannya sesama aktivis KontraS,
tokoh agama, akademisi dan para aktivis yang gemar berbicara kemanusiaan dan keadilan," ujar mantan aktivisi 98, Adian Napitupulu, Sabtu (10/12/2011).

Sondang, kata Adian, harus rela, bahwa aksinya hanya akan menjadi topik diskusi, konferensi Pers dan polemik yang menarik di media massa atau sedikit aksi teaterikal dari belasan orang nantinya.

Paling jauh, Sondang hanya akan ditulis dalam kaleidoskop untuk menjadi catatan tahunan bahwa pernah ada aksi bakar diri, titik, tidak lebih dari itu.                                               

"Api Sondang, harapan Sondang, cita-cita Sondang tidak dipadamkan oleh kekuasaan tetapi dipadamkan oleh kediaman  kita. Saat ini, dalam kesadaran yang tidak sempurna, Sondang mungkin berkira-kira ada sahabatnya, ada teman sekelasnya, ada rekannya sesama Kontras. Ada ribuan orang di depan RSCM yang menunggu, berdoa, menangis, marah," kata Adian lagi.

"Maaf Sondang, tidak ada siapa-siapa disana. In the end we will remember not the word of our enemies but the silent of our friends," kata Adian lagi seraya mengutip sepenggal pernyataan Martin Luther.

Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved