Bentrok di Bima
Komnas HAM: Polisi Tembak Massa di Bima dari Jarak Dekat
Dikatakannya, dari data yang berhasil dihimpun Komnas HAM, ada sebanyak 30 orang mengalami luka tembak
Penulis:
Danang Setiaji Prabowo
Editor:
Yudie Thirzano

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tindakan represif aparat kepolisian dalam mengendalikan massa di Bima Nusa Tenggara Barat dinilai sangat tidak manusiawi. Pasalnya, warga yang sudah menyerah masih dipukul, diseret, dan ditendang, bahkan ditembak dari jarak dekat.
Wakil Ketua Komnas HAM sekaligus Ketua Tim Pemantau dan Penyidikan bentrok di Bima, Ridha Saleh, mengatakan jumlah peserta aksi di Pelabuhan Sape saat itu sekitar 100 orang. Saat polisi masuk ke pelabuhan dan meminta warga untuk mundur dan duduk meletakkan senjata, permintaan tersebut dituruti.
"Warga tidak melakukan penyerangan atau perlawanan kepada polisi. Tetapo justru polisi yang menyerang dan melakukan penembakan kepada warga, bahkan saat warga sudah menyerah," ujar Ridha, Selasa (3/1/2012) saat jumpa pers di kantor Komnas HAM.
Dikatakannya, dari data yang berhasil dihimpun Komnas HAM, ada sebanyak 30 orang mengalami luka tembak. Dari 30 orang tersebut, ada satu orang yang ditembak dari jarak dekat sampai tiga kali.
"Warga bernama Ismail (50) mengalami penembakan dari jarak dekat sebanyak tiga kali. Pertama di tangan, kedua di kaki, dan ketiga di dada. Selain itu ada juga M. Nur (30) yang ditembak dari jarak dekat pada kaki sebelah kiri saat berada dibelakang pelabuhan Sape," terang Ridha.
Data korban luka tembak hasil tindakan represif polisi yang ditunjukkan Komnas HAM memang cukup memprihatinkan. Ada juga korban luka tembak bernama Yaumin (30) yang ditembak di paha kiri, tembus sehingga melukai alat kelaminnya.