Waria Ikut Seleksi Komisioner Komnas HAM
Mama Yuli Sempat Kembali Jadi Pria Normal
Seiring bertambahnya umur, Yulianus Rettoblaut alias Mami Yuli (50) mulai mencari jati diri.
Laporan Wartawan Tribunnews.com Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Seiring bertambahnya umur, Yulianus Rettoblaut alias Mami Yuli (50) mulai mencari jati diri. Ia merasa hidupnya kosong dan sia-sia ketika waktunya hanya dihabiskan di jalanan.
Sempat ia berusaha kembali menjadi pria normal. Mami Yuli yang menganut agama Katolik menyambangi rohaniwan-rohaniwati, pastor dan suster. "Ya sembuh 1-2 bulan, tapi namanya perasaan enggak bisa dibohongi, akhirnya balik lagi," ujar Mami.
Mami coba mengisi hidupnya dengan kegiatan yang berguna. Ia menilai waria tidaklah identik dengan hal-hal negatif tetapi bisa menghasilkan sesuatu yang positif.
Dengan tabungan yang ia miliki, Mami Yuli mengikuti kursus kecantikan Rudy Hadisuwarno pada tahun 2001. Anak ketujuh dari 11 bersaudara juga mendatangi Gereja Santo Matias Cinere, untuk menceritakan kegundahan hatinya.
"Aku harus banting setir, tidak di jalanan lagi. Aku harus menjadi orang yang berguna. Siapa yang mau mengurus Waria? Ya kita sendiri. Kita harus mandiri," ungkap Mami Yuli.
Mami kemudian diterima oleh Romo Wardjito. Di sana ia mulai diperkenalkan dengan umat paroki. Mereka juga menerima Mami Yuli dengan tangan terbuka. Mami kemudian mengisi kegiatan rohani dengan mengikuti paduan suara gereja dan aktif sebagai atlet voli gereja. Ia kembali merasakan gairah hidup. "Setiap pastor ganti, saya dan komunitas diperkenalkan dengan pastor yang baru," tuturnya.
Guna mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mami Yuli membuka salon kecantikan. Ia terus bersosialisasi dengan sesamanya. Mami juga aktif di Yayasan Srikandi Sejati.
Mami menceritakan saat membeli rumah di kawasan Cinere, Depok dengan warganya yang religius. Ia mencoba pendekatan dengan memberikan kursus kecantikan kepada warga sekitar. Mengajari mereka cara membuat kue dan menyumbangkan sembako bagi warga tidak mampu.
"Saat syukuran rumah, saya buat panggung, dangdutan, terus saya ajak waria-waria cantik untuk menari. Warga senang, mereka berpikir waria itu bukan cuma bisa melakukan hal negatif," kata ibu dari tiga anak angkat itu.