Senin, 13 April 2026

Pesawat Sukhoi Jatuh

Jadi Pemandu ke Gunung Salak, Warga Pasang Tarif Rp 200 Ribu

Musibah jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 pada pekan lalu, seakan menjadi berkah bagi warga

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dodi Esvandi

TRIBUNNEWS.COM, SUKABUMI - Musibah jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100
pada pekan lalu, seakan menjadi berkah bagi warga di sekitar Gunung
Salak. Banyaknya relawan dan wartawan yang melakukan peliputan
terhadap musibah itu, benar-benar dimanfaatkan oleh warga sekitar.

Munculnya warung dadakan salah satu contohnya. Sejumlah warga
memanfaatkan keramaian di sekitar lingkungan mereka dengan membuka
warung yang menjual beraneka makanan.

Selain membuka warung dadakan, warga di sekitar Gunung Salak
juga menawarkan diri untuk pemandu jalan menuju puncak Gunung Salak.
Kliennya adalah para relawan yang belum pernah atau belum terbiasa
menuju lokasi jatuhnya pesawat tersebut.

Sayangnya pemandu dadakan itu memasang tarif yang sangat tinggi kepada
relawan yang akan memanfaatkan jasa mereka. Setiap relawan yang akan
naik ke Puncak Salak, dimintai bayaran Rp 200 ribu.

Tak ayal hal ini membuat geram koordinator pencarian korban sukhoi di
Posko Cimelati.

"Saya bilang kepada warga, mereka keterlaluan. Sudah
jelas ini musibah. Tapi mereka malah memanfaatkannya untuk mencari
uang," kata Soma Sobarna, Kooordinator posko pencarian korban sukhoi
di Desa Cimelati.

"Kami ke sini juga berkat sumbangan donatur. Jadi tidak mungkin mampu
membayar pemandu Rp 200 ribu per kepala. Duit dari mana," ucap Soma
Sobarna kepada Tribunnews.com, Rabu (16/5/2012).

Beruntung kata dia, ada beberapa perangkat desa yang bermurah hati
menawarkan jasa untuk memandu para relawan menuju puncak salak, tanpa
meminta bayaran sepeserpun.

"Kami minta bantuan kepada perangkat desa untuk memandu jalan.
Untungnya mereka mau," kata Soma.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved