Kasus Centuri
Di Transkrip 9 Oktober, SBY Banyak Menyebut Nama Antasari
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan bahwa pertemuan 9 Oktober 2008 tidak membahas mengenai bailout Bank Century.
Nah, budget defisit kalau sekarang meskipun tantangannya sangat berat untuk APBN kita, tapi kita belum bicara di atas 2%. Dulu 8, 5%, itu pun bukan untuk ekspansi fiskal sebagaimana remedy, resep yang dianjurkan Keynes menghadapi krisis. Itu habis untuk food, untuk other subsidies for the poor, yang kira-kira berkaitan dengan social safety net yang memang itu juga needed.
Nah, ini disampaikan di tahun 1999 waktu itu, bukan sekarang. Dia, para pakar itu mengatakan, Indonesia tu bagaimana, kira-kira cepat nggak recover-nya itu. Jawabannya ya tergantung, apakah cepat anda memulihkan private demand, apakah cepat anda memulihkan kepercayaan.
Bagaimana anda menyelesaikan masalah broken banking system, dan kemudian bagaimana anda mengatasi hutang, debt resolution yang ratusan
triliun jumlahnya waktu itu.
Saudara-saudara, mengapa lima butir ini saya angkat, untuk saya mengajak Saudara-saudara sebagai penyelenggara negara yang lain untuk ikut menenangkan keadaan, dan tidak perlu kita lebih panik dibandingkan orang lain yang mestinya lebih tidak memahami hal-hal yang fundamental seperti ini.
Nah, dari situ, saya langsung saja masuk kepada apa yang saya harapkan bagi kita semua yang kemarin hadir, untuk diketahui oleh Bapak/lbu sekalian, sehingga nanti ketika ada isu yang berkaitan dengan hal-hal tertentu, dapat memahami konteksnya, memahami latar belakangnya.
Masuk saja langsung slide nomor 26. Ini capaian-capaian ekonomi selama 4 tahun, meskipun masih banyak PR, tapi ada achievement yang tidak boleh kita sia-siakan momentumnya, tapi saya bypass saja.
Baik, jadi yang pertama, Pak Anwar dan teman-teman yang lain, ini yang
paling mendasar. Kita harus tetap optimis, bersatu dan bersinergi untuk memelihara momentum pertumbuhan, mengelola dan mengatasi dampak krisis keuangan Amerika Serikat.
Situasi sekarang jauh berbeda dengan situasi 1998 dan seterusnya dan seterusnya. Dan lihat, mari kita jaga kepercayaan masyarakat.
Ini Amerika yang mbahnya capitalism, mbahnya ekonomi pasar, mbahnya orang yang bisa mengelola finansial dan seterusnya, mengapa lebih buruk, karena ternyata confidence mereka juga drop. Trust di antara lembaga-lembaga keuangan mereka juga rendah sekarang ini. Jadi bukan hanya Indonesia yang sering panik, sering tidak percaya diri.
Negara maju pun yang selama ini mengajari kita, guru kita, juga mengalami masalah yang luar biasa. Itu direktif saya yang pertama kemarin.
Yang kedua, ini memang PR yang saya berikan, tugas yang saya berikan, bahwa meskipun keadaan sulit, tapi bagaimana pun kita harus berusaha sangat keras, berusaha maksimal untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi 6%. Ini achievable.
Manakala skenarionya lebih buruk dari pada yang kita pikirkan, yang terjadi sekarang ini ya explainable mengapa tidak sampai 6%. Tetapi sekuat tenaga harus kita jaga. Kita tahu
komponen growth itu dari segi demand, demand side, consumption, government expenditure, investment, dan net export dan import. Yang saya minta kemarin kepada seluruh pihak termasuk private sectors untuk menjaganya bersama-sama.
Nah, yang poin ketiga, mari kita manfaatkan perekonomian domestik. Ini banyak orang yang tidak tahu bahwa exposure capital market kita ini sebagai sumber pembiayaan, tidak sama dengan negara-negara maju yang sangat mempengaruhi. Kita tidak sebesar mereka. Lantas komponen ekspor kita terhadap growth itu juga tidak sama dengan negara-negara
yang ekonominya export oriented economy.
Jadi sebetulnya kita punya capital, punya resources, punya budget, punya sumber-sumber ekonomi lokal yang tidak harus ikut ikut terjatuh dalam suasana seperti ini, dari Wall Street ini.
Kita masih ingat sabuk pengaman perekonomian kita 1998 dulu kan UKM, Koperasi, sektor
informal, malah itu yang tenang dulu. Yang berjatuhan yang ekonomi formal, perusahaan-perusahaan, konglomerat, dan sebagainya. Jadi saya punya keyakinan ini pun sebetulnya harus kita daya gunakan dengan
baik.