Kamis, 16 April 2026

DPR: Mafia Narkoba Ada di Kepolisian dan TNI

Anggota Komisi III DPR Martin Hutabarat menyoroti peristiwa keji yang terjadi di Pekanbaru, Riau.

Editor: Anwar Sadat Guna

Saat melakukan penganiayaan mereka diketahui mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu.

Kisah penganiayaan sadis dan brutal yang dialami Briptu Joko Bobianto dan bagaimana ia secara ajaib bisa menyelamatkan diri, mirip dengan cerita-cerita film mafia di televisi.

Kisah bermula Senin (12/11/2012) sore, sekitar pukul 17.30. Briptu Joko ditelepon seorang rekannya, yang juga polisi, untuk datang ke sebuah tempat di Jalan Kartama, Marpoyan Damai, Pekanbaru.

Rupanya, ini merupakan pancingan untuk polisi muda berusia 28 tahun tersebut. Pasalnya, di tempat tersebut telah menunggu si penelepon dan tujuh pria lainnya.

Mereka ramai-ramai menganiaya Briptu Joko, dengan dipukul benda tumpul serta ditusuk dan disayat senjata tajam. Luka paling parah ditemukan di dada sebelah kanan atas, yang diduga ditusuk dengan tombak.

Tengah malam, sekitar pukul 00:00, dalam kondisi tubuh babak belur dan penuh luka, korban diangkut para pelaku dengan mobil Mitsubishi Grandis hitam BM 423 IN untuk dibuang di kawasan rawa-rawa dan sepi di bilangan Kubang Raya, yang berada di perbatasan Pekanbaru dengan Kampar.

Selama di perjalanan, diduga Briptu Joko terus dianiaya. Tampak para pelaku telah merencanakan pembunuhan ini dengan rapi.

Itu terlihat dari setting bagian belakang mobil, di mana joknya sengaja dilepas, agar leluasa menganiaya korban.

Mengira korban telah meninggal dunia, para pelaku melemparkan tubuh Briptu Joko ke sebuah kolam di kawasan rawa-rawa bersemak pada malam yang sepi tersebut.

Untuk memastikan lagi bahwa korban benar-benar sudah tidak bernyawa, pelaku melepaskan sejumlah tembakan ke arah kolam. Sebelum pergi, mereka membakar seragam Briptu Joko untuk menghilangkan jejak.

Ajaib, Briptu Joko Bobianto ternyata masih hidup. Suami Fitriana dan ayah dari Zafran, yang masih berusia 1 tahun, itu rupanya dalam kondisi pingsan saat dilempar komplotan penganiaya ke kolam.

Setelah memastikan kondisi aman, yakin kawanan penganiaya telah pergi, Briptu Joko keluar dari kolam. Dengan sisa-sisa tenaganya, Joko merayap menembus kegelapan malam menuju Masjid Nurul Huda, Kubang, untuk meminta pertolongan.

Di sanalah, di teras masjid, ia ditemukan penjaga masjid pada Selasa subuh, dalam kondisi tak sadarkan diri. Ia hanya bercelana pendek, dengan tubuh penuh luka.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved