Pekerja Indonesia di Hongkong Minta Sebutan TKI Diubah Jadi BMI
Para pekerja asal Indonesia di Hong Kong meminta penghapusan istilah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) lalu
TRIBUNNEWS.COM - Para pekerja asal Indonesia di Hong Kong meminta penghapusan istilah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) lalu diganti menjadi Buruh Migran Indonesia (BMI). Istilah BMI lebih manusiawi, menunjukkan kesetaraan, kesamaan hak dan manusiawi.
Hal itu menjadi salah satu resolusi para BMI ketika mendeklarasikan Barisan Relawan Jokowi Presiden 2014 (Relawan Jokowi atau Bara JP) di Victoria Park, Hongkong, Minggu (25/8/2013). “Kami mendambakan pemimpin yang jujur, mendambakan perubahan,” kata Ketua Relawan Hongkong Tri Sugito di hadapan para BMI, seperti tertulis dalam rilis yang diterima redaksi Tribunnews.com.
“Hanya perubahan itulah yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat mayoritas,” tambah wakil ketua, Nur Utami. Dua wakil ketua lainnya antara lain, Liana Citra dan Laeli.
Nur Utami mengatakan, sedikitnya 150 ribu orang BMI di Hongkong mendambakan perubahan. "BMI sudah terlalu banyak memperoleh perlakuan tidak adil. BMI yang pulang ke Indonesia, di bandara selalu dipersulit, seakan-akan BMI telah melakukan tindak kriminal, padahal kami justru penghasil devisa," jelasnya.
Para BMI menegaskan, mereka keberatan dibawa-bawa oleh Djumhur Hidayat dalam proses Konvensi Partai Demokrat. “Kami tidak mau masuk ranah politik. Kami hanya mau mendukung perubahan dan Jokowi. Partai ogah. Kalau Jokowi, sumbang kampanye pun mau,” kata mereka.
Menurut Nur Utami, 99,99 persen BMI di Hongkong adalah pro perubahan, sudah bosan dengan janji-janji pemerintah yang hanya bisa membuat rencana. Maka semua partai politik supaya realistis, jangan lagi mengumbar janji kosong, juga kepada para BMI di Hongkong.
Sementara itu Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Bidang Hukum, Jalintar Simbolon dan Syafti Hidayat mengungkapkan, Relawan Jokowi telah mendirikan lembaga khusus untuk mendampingi para BMI yang diperlukan tidak adil. “Pro perubahan juga harus selalu melawan ketidakadilan,” tegas Jalintar dan Syafti Hidayat