Senin, 13 April 2026

Prahara Partai Golkar

Kisah Elit Golkar Satu-persatu Sowan JK, Minta Restu Jadi Calon Ketua Umum

Jusuf Kalla mengakui ditemui banyak elit-elit Golkar yang sowan pada dirinya dan meminta restu untuk jadi calon ketua umum partai beringin.

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Joko Widodo - Jusuf Kalla memberikan keterangan pers di rumah dinas gubernur DKI Jakarta, Kamis (21/8/2014) Malam. Joko Widodo - Jusuf Kalla mengapresiasi keputusan Mahkamah Konstitusi memutuskan menolak seluruh gugatan pasangan Prabowo Subianto - Hatta Rajasa dalam sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU). KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO 

Laporan Nurmulia Rekso Purnomo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Ketua Dewan Pimpinan Partai Golkar sekaligus Wakil Presiden terpilih, Jusuf Kalla (JK), mengaku sudah ditemui oleh sejumlah kader partai yang mengaku siap maju pada Musyawarah Nasional (Munas) IX mendatang untuk mengantikan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie alias Ical.

Dalam kesempatan wawancara di kediamannya di Jalan Brawijaya nomor 6, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (21/8/2014), JK mengatakan dari seluruh nama yang digadang-gadang maju, hanya sebagian yang sudah menemui dirinya.

"Semua (calon Ketua Umum) kan dulu pengurus, wakil ketua pada zaman saya," katanya.

Nama yang sempat diumumkan Ical pada acara halal bihalal DPP Partai Golkar Rabu lalu (20/8), adalah Priyo Budi Santoso, MS.Hidayat dan Erlangga Hartarto. Nama lain yang juga sering disebut namun tidak disebutkan Ical adalah Agung Laksono.

JK yang juga merupakan ketua Palang Merah Indonesia (PMI) itu juga mengatakan, para calon Ketua Umum tersebut menemui dirinya salah satunya untuk mengutarakan niat tersebut.

"Ya tentu (saya) sebagai senior (partai). Dalam adat Golkar mereka selalu memberitahukan," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut saat ditanya siapa diantara para kandidat yang ia dukung, JK mengakui bahwa ia tidak bisa mendukung siapapun karena tidak mempunyai hak pilih. Pasalnya dalam Munas yang mempunyai hak pilih antara adalah para ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC), Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD), Ketua organisasi saya Partai Golkar hingga Ketua Umum.

Ia menyebutkan dalam memilih Ketua Umum Partai Golkar idealnya faktor usia tidak dijadikan pertimbangan, melainkan faktor penerimaan oleh berbagai macam kubu di partai berlambang pohon beringin itu.

Penetapan waktu digelarnya Munas IX hingga kini masih jadi perdebatan. Kader yang mendukung Ical menetapkan Munas pada 2015, karena dalam rekomendasi Munas VIII pada 2009 lalu merekomendasikan Munas digelar pada 2015 agar partai memiliki waktu untuk melakukan konsolidasi.

Sedangkan kader yang menolak, berpegang pada Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), yang mengatur pergantian Ketua Umum setiap lima tahun sekali. Ical pada Oktober bulan ini genap enam memimpin partai.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved