Senin, 18 Mei 2026

Yusril Ceritakan Masa Kecilnya Bertetangga dengan Slamet Rahardjo-Eros Djarot di Belitung

Di Kota Tanjung Pandan, keluarga Idris Haji Zainal Abidin (ayah Yusril), tinggal di rumah kontrakan sederhana di Kampung Parit.

Tayang:
Penulis: Valdy Arief
Editor: Dewi Agustina
Phot/MG/SEPTYONAKA TRIWAHYUDI
Yusril Ihza Mahendra 

Komandan Pangkalan Udara Tanjung Pandan itu adalah ayah kandung bintang film Slamet Rahardjo Djarot dan musisi kondang Eros Djarot.

"Saya sering bermain-main di halaman rumah Pak Djarot yang ukurannya besar dan terbuat dari beton. Rumah itu tampaknya peninggalan zaman Belanda. Saya masih ingat Slamet Rahardjo pakai baju pramuka dan terlihat gagah," katanya.

Yusril masih ingat betul bagaimana kakak beradik Slamet Rahardjo dan Eros Djarot pergi ke sekolah setiap pagi.

"Pagi hari saya melihat mereka pergi sekolah naik jip angkatan udara. Mungkin jip itu buatan Rusia, saya ingat warnanya biru," ujarnya.

Radio Listrik
Berbeda dengan keluarga Djarot, anak-anak Idris pergi ke sekolah berjalan kaki.

Selain mengenyam pendidikan di sekolah umum (sekolah rakyat), anak-anak Idris sekolah lagi di madrasah pada sore hari.

Tetangga lain yang dikenang Yusril bernama Pak Ahmad, pemilik bengkel reparasi radio. Pada masa itu belum ada televisi di kawasan tersebut.

"Ayah saya tak punya radio. Di zaman itu radio adalah barang mewah yang tak semua orang sanggup membelinya. Jadi kami mendengar radio di rumah Pak Ahmad," tambah Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu.

Keluarga Yusril baru punya radio setelah mereka pulang kampung ke Manggar karena ayahnya pindah tugas ke kota itu, masih sebagai Kepala KUA, pada akhir 1961.

"Radio listrik milik ayah saya itu suaranya sayup-sayup kedengaran. Kadang-kadang terdengar, kadang-kadang tidak," katanya.

Ia masih ingat betul bagaimana orang di kampungnya sangat tergantung kepada siaran radio ketika mengikuti pertandingan bulu tangkis memperebutkan Piala Thomas alias Thomas Cup. Saat itu pemain yang menjadi idola yaitu Ferry Sonneville dan Unang Sukardja.

"Tetangga datang ke rumah kami ingin mendengar radio yang suaranya sayup-sayup sampai itu. Begitu juga rumah tetangga lain yang memiliki radio," kata Yusril.

Suatu saat Ferry memenangi pertandingan melawan pemain Swedia, namun sebelumnya sempat kalah di set pertama.

Gara-gara Ferry Sonneville sempat kalah tersebut seorang warga setempat yang bernama Arsyad emosional dan memukul loudspeaker yang terbuat dari triplek sehingga radio tak berfungsi lagi.

Akibatnya sebagian warga setempat tidak tahu akhirnya Ferry memenangi pertandingan bulu tangkis. (valdy arif)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved