Prahara Partai Golkar
Bolos Demi Calon Ketum Golkar, Novanto Disebut Coreng Wajah DPR
Perselingkuhan ini jelas merusak konsolidasi demokrasi yang sudah kita bangun dengan susah payah
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pertemuan anggota DPR yang juga calon ketua umum Partai Golkar Setya Novanto dengan DPD II Golkar se-Jawa Timur di hari kerja, tepatnya pada Senin kemarin, kembali mencoreng nama baik DPR yang selama ini sudah terpuruk.
"Ini kali ketiga Novanto mempermalukan wajah DPR, yang seharusnya dijaga sebab merupakan pilar utama demokrasi," kata Direktur Eksekutif Segitiga Institute, Muhammad Sukron, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (23/2/2016).
Sukron menjelaskan, ada tiga langkah Novanto yang memperlakukan wajah DPR. Pertama terkait dengan kasus "Papa Minta Saham."
Dalam kasus ini, Novanto juga sedang mempertontonkan kepada publik bahwa dugaan "perselingkuhan" antara penguasa dengan pengusaha menjadi nyata.
"Perselingkuhan ini jelas merusak konsolidasi demokrasi yang sudah kita bangun dengan susah payah saat reformasi. Ini sama saja dengan menikam demokrasi sehingga bisa lumpuh karena dinilai hanya menjadi kue bagi elit, bukan lagi kristalisasi kehendak rakyat," kata Sukron, yang juga mantan aktivis gerakan mahasiswa.
Kasus kedua Novanto mempemalukan DPR, ujar Sukron, adalah terkait dengan pertemuan dengan Donald Trump, bakal calon Presiden AS yang benar-benar rasis dan menebar kebencian kepada umat Islam.
Di depan Trump, Novanto menggadaikan DPR sehingga digunakan oleh Trump untuk legitimasi meraih kekuasaan di Gedung Putih.
"Kursi pimpinan DPR, di tangan Novanto, benar-benar menjadi rusak dan hilang wibawa. Novanto menyerahkan kursi pimpinan DPR kepada Trump untuk dijadikan alas legitmasi dan komoditas politik internal negara orang lain," kata Sukron.
Ketiga, kata Sukron, adalah pertemuan Novanto dengan DPD II Golkar se-Jawa Timur di hari kerja.
Muka DPR yang selama ini sudah bopeng kian diperparah oleh Novanto.
Artinya, bagi Novanto, urusan politik pribadi bisa mengalahkan posisi dia sebagai pejabat publik.
"Ini korupsi disiplin dan korupsi waktu. Novanto membuat publik semakin geram pada DPR, dan bahkan pada Golkar. Secara tak langsung, Novanto membuat publik benci pada Golkar. Novanto adalah model Golkar lama yang suka-suka menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi," kata Sukron.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/sosok-militer-pada-pilpres-2019_20160130_200124.jpg)