NU dan Muhammadiyah Harus Lebih Berperan dalam Memberantas Terorisme
Mantan Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi menilai revisi UU No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorismee belum diperlukan.
Laporan Wartawan Tribunnewsmcomn M Zulfikar
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi menilai revisi UU No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorismee belum diperlukan.
Dirinya mengkhawatirkan jika UU terorisme direvisi akan membuat aparat kepolisian semakin semena-mena melakukan penangkapan terduga terorisme.
"Saya tidak ingin perubahan UU terorisme membuat Densus gampang nembakin terduga teroris," kata Hasyim di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (14/3/2016).
Pria yang juga menjabat sebagai anggota Wantimpres itu menuturkan, peran organisasi kemasyarakatan berideologi Islam diperlukan untuk mencegah menyebarnya gerakan terorisme. Dengan begitu, masyarakat tidak salah mempersepsikan ajaran agama.
"NU dan Muhammadiyah harus bersama-sama menyadarkan terduga pelaku terorisme. Kedua organisasi itu harus menyadarkan bahwa terorisme merugikan agama dan merugikan negara," tuturnya.
Masih kata Hasyim, apabila ada umat Islam melakukan aksi terorisme sama saja memberikan ruang kepada orang lain untuk menyerang Islam.
Dikatakannya, civil society harus mengambil peran yang tidak dapat dilakukan lembaga formal dalam berantas terorisme.
"Pengananan terorisme harus dimulai dari hulu. Harus ada penguatan pikiran antara agama dan negara menuju Rahmatan Lil Alamin," tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/hasyim-nih2_20151112_152717.jpg)