Prahara Partai Golkar
75 Kader Agung Laksono Masuk Kepengurusan Golkar
75 orang dari 95 kader kubu Agung Laksono masuk kepengurusan Partai Golkar yang baru hasil kesepakatan kubu Aburizal Bakrie dengan Agung Laksono.
Penulis:
Ferdinand Waskita
Editor:
Dewi Agustina
Priyo menambahkan, ketidakpercayaan terhadap partai akan mengakibatkan runtuhnya partai sebagai pilar demokrasi. Ia ingin mengundang aktivis untuk ikut memimpin partai.
"Saya akan undang aktivis untuk memimpin parpol. Kalau parpol jadi bunker tempat berlindung orang bermasalah merupakan tanda-tanda kiamat," tutur Priyo.
Priyo memiliki tiga alasan untuk maju mendaftarkan diri menjadi calon ketua umum Partai Golkar.
Pertama, Priyo mengklaim mendapatkan dukungan yang deras dari berbagai daerah.
Kedua, Golkar partai yang hebat. Menurut Priyo, hal itu tercermin dari perolehan jumlah kemenangan pemilu legislatif.
"Dari 10 kali pemilu, Golkar 7 kali menang dan 3 kali menjadi runner up. Maka fakta tidak terbantahkan Golkar partai hebat," kata Priyo.
Tujuh kali kemenangan di pemilu legislatif berasal dari enam kali kemenangan di era Orde Baru dan satu kemanangan di era reformasi.
Menurut Priyo, hal itu terjadi karena sejarah politik yang dimiliki Partai Golkar.
Partai berlambang beringin itu memiliki basis massa kuat, termasuk hubungan baik dengan militer dan birokrat. Hal itu yang menjadikan Golkar merupakan partai dominan di era Orde Baru.
Namun, dukungan tetap teruji di era reformasi saat tiap partai mendapat kesempatan yang sama untuk mendapat dukungan militer dan birokrat.
"Saya ingin mengatakan kebesaran Golkar saat itu mengharu biru. Golkar teruji saat militer dan birokrat masuk ke partai. Sekarang ibaratnya bebas betul, tidak ada yang bisa mengklaim darah biru, yaitu jalur militer dan birokrat," ucap Priyo.
Ketiga, Golkar memiliki suara yang stabil di kursi legislatif. Walau di era reformasi, Priyo mengakui Golkar mengalami penurunan dalam jumlah kursi legislatif.
"Angka menunjukkan tren menurun di angka kursi legislatif. 128, turun 108, kemarin 91 kursi," kata Priyo.
Priyo mengakui bahwa terjadi perubahan dramatis dalam praktik pemilu. Menurut dia, partai harus melakukan strategi lompatan besar dengan menerobos pakem tradisional. (tribunnews/fer/kps)