WNI Disandera Abu Sayyaf
Sudah 48 Hari Keluarga Cemas Menantikan Kepulangan Korban Abu Sayyaf
Menurut Mega, kelompok penyandera tidak basa-basi saat berbicara lewat telepon.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sudah 48 hari keluarga 10 Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok Abu Sayyaf menanti pembebasan anggota keluarganya.
Selama itu pula asa itu belum terjawab dan memeluk bahagia anggota keluarga mereka yang disandera secara terpisah, yakni tujuh WNI dan tiga WNI yang disandera dalam waktu yang berbeda oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina.
Kesan itulah yang terucap dari Dian Megawati Ahmad, istri dari Ismail, anak buah kapal (ABK) berperan sebagai Mualim di Kapal Tug Boat (TB) Charles 001.
Begitu juga dengan lima keluarga ABK lainnya yang berkisah tentang kekhawatiran mereka kepada Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Charles Honoris.
Saat itu Dian Megawati Ahmad didampingi anggota Komisi I DPR F PDIP, Charles Honoris (kanan) dan Irine Yusiana Roba Putri menemui Direktur PWNI dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu Lalu Muhammad Iqbal, ketika menanyakan kejelasan dari pemerintah terkait upaya pembebasan para sandera di Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Senin (1/8/2016).
"Sudah 48 hari keluarga menunggu kepulangan korban dengan penuh kecemasan," kisah Politikus PDI Perjuangan ini ketika dihubungi Tribunnews.com, Senin (8/8/2016).
Belum lagi lanjutnya, teror melalui pesan singkat (SMS) dan telpon ke pihak keluarga dari para penyandera.
Seperti dikisahkan Dian Megawati Ahmad kerap gemetar ketika telepon genggam berbunyi.
"Saat telepon bordering dari kelompok penyandera, saya selalu bingung. Kalau diangkat saya takut salah ngomong sekaligus gemetar, bila tidak diangkat pun salah. Ketika mendapatkan telepon, rasanya antara sedih dan senang," kata Mega saat ditemui Tribun di Jakarta, Rabu (3/8/2016) lalu.
Ismail menjadi satu dari sepuluh ABK yang hingga kini masih disandera oleh kelompok Abu Sayyaf.
Usai disandera, Mega beberapa kali dihubungi kelompok penyandera.
Perempuan asal Samarinda itu menceritakan, biasanya kelompok penyandera menelponnya sekitar pukul 09.00.
Menurut Mega, kelompok penyandera tidak basa-basi saat berbicara lewat telepon.
Mereka hanya meminta Mega segera menyampaikan tuntutan kepada perusahaan tempat di mana Ismail bekerja sebagai ABK.
"Mereka bicaranya halus, tidak ada nada kasar. Suaranya terdengar santai," ungkap Mega.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/istri-korban-penyanderaan-tanyakan-nasib-suaminya_20160801_220701.jpg)