Kenangan Ilham Aidit Nyaris Dihabisi Para Tentara Pasca-Peristiwa G 30 S
Karena tubuh Ilham termasuk kecil, kalah dan babak belur sudah jadi risiko biasa.
Yang paling berat dirasakan adalah cemoohan masyarakat tentang ayahnya.
Cap “PKI” – sebuah kata yang berkonotasi hina hingga sekarang - seperti tertulis besar di dahinya.
Merasa tak tahan, tak jarang ejekan-ejekan itu harus diakhiri dengan adu jotos demi membela nama sang ayah.
Karena tubuh Ilham termasuk kecil, kalah dan babak belur sudah jadi risiko biasa.
Baca: Cerita Cinta Isti Gadis Desa Pemalang Dipinang Pria Belanda
“Sampai suatu saat sewaktu saya SMA di Jakarta, saya disadarkan Pastor Brouwer. Dia bilang ‘Kalau kamu terus berkelahi, energimu akan habis di situ. Kamu tidak bisa menyelesaikan sekolahmu’. Dari situ saya sadar dan berhenti,” tutur Ilham yang akhirnya dapat menyandang gelar insinyur dari Universitas Katolik Parahyangan.
Baca: Fakta-fakta Dibalik Jasad Bayi Dibawa Pakai Angkot, Bikin Trenyuh!
Pekerjaan yang kini digelutinya di Bali juga masih berhubungan dengan pendidikannya.
Tulisan ini diambil dari artikel “Jalan Damai Anak-Anak Korban Konflik 1965” (Intisari, September 2004)
(Tjahjo Widyasmoro)
Artikel ini terlah tayang di Intisari dengan judul: Mengenang G30S: Ilham Aidit Nyaris Ikut Dihabisi oleh para Tentara, Jika Bukan karena Ini
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilham-aidit_20170921_165902.jpg)