Berita KBR

Dua Abad Agama Baha’i: Hakikatnya Seluruh Manusia Satu Keluarga

12 November tepat 200 tahun kelahiran Baha’ullah –imam agama Baha’i. Hari Kelahirannya dirayakan di 191 negara, termasuk Indonesia.

Dua Abad Agama Baha’i: Hakikatnya Seluruh Manusia Satu Keluarga

12 November tepat 200 tahun kelahiran Baha’ullah –imam agama Baha’i. Hari Kelahirannya dirayakan di 191 negara, termasuk Indonesia. Di sebuah hotel di Jakarta, para pengikut Baha’i menggelar acara disertai menyanyikan lagu tentang Tuhan dalam berbagai bahasa.

Dalam ajarannya, Baha’ullah mengajarkan pengikutnya untuk bersikap terbuka, menjauhkan prasangka, dan curiga. Lantas, seperti apa Baha’i di Indonesia? Berikut kisah lengkapnya seperti dilansir dari Program Saga produksi Kantor Berita Radio (KBR).

Ratusan orang berpakaian batik dan baju adat berkumpul di ruang pertemuan Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta. Mereka saling menjabat, bertegur sapa, bertukar cerita.

Begitu acara dimulai, lampu meredup. Di atas panggung, lima pemuda bersiap menyanyikan lagu. Seorang di antara mereka, membawa gitar. Bait demi bait tentang Tuhan dilantunkan dalam berbagai bahasa.

Akhir Oktober lalu, Syaiful Anam, salah satu Majelis Rohani Baha’i Indonesia dan para pengikut Baha’i sedang merayakan kelahiran Baha’ullah – sang pembawa wahyu. Dua ratus tahun lalu tepatnya 12 November 1817, di Iran Baha’ullah lahir.

Tapi kehadirannya dianggap sebagai ancaman karena mengajarkan agama baru dan banyak pemuka agama tak menyukai. Hingga akhirnya Baha’ullah dipenjara di Siyah Chal, Teheran. Dia difitnah berusaha menggulingkan pemerintahan dengan membunuh raja.

Kemunculan agama Baha’i tak lepas dari sosok Mirza Husayn Ali Nuri, yang belakangan dikenal dengan nama Baha’ullah. Dia lahir sebagai pangeran keluarga bangsawan di Iran. Kepintaran dan kebijaksanaannya sudah termasyhur sejak kecil.

Ketika ayahnya meninggal, Mirza diminta menggantikan kedudukannya sebagai raja. Tapi dia menolak lantaran tak tertarik pada gelar dan pangkat. Keinginannya membela kaum papa dan melindungi orang-orang yang tak mampu.

Mirza sendiri adalah pengikut Siyyid Mírzá `Alí-Muḥammad –yang mengaku sebagai Mahdi dalam narasi keyakinan Islam. Pada 1863, dia menyebut dirinya sebagai imam Baha’i. Namanya kemudian menjadi Baha’ullah yang artinya Kemuliaan Tuhan.

Di tahun itu pula, saat menginjak usia 27 tahun, Baha’ullah mulai berdakwah. Tapi pemimpin agama mulai resah. Baha’ullah lantas diasingkan. Ketika itulah, ia banyak menulis dan melahirkan Kitab i-Aqdas tentang hukum dan praktik bagi individu dan masyarakat. Serta Kitab i-Iqan yang berisi kesepahaman dalam ajaran Baha’i.

Halaman
12
Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved