Selasa, 7 April 2026

Pilkada Serentak

Djarot-Sihar Sitorus Dinilai Pasangan Tepat untuk Pimpin Sumut

"Pasangan Djarot dan Sihar ini sangat bagus untuk memimpin Sumut limat tahun kedepan," ujar Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner

Editor: Sanusi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Bacagub Sumatera Utara Djarot Saiful Hidayat (kanan) mencium tangan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (kiri) saat acara pengumuman bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung PDI Perjuangan di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Kamis (4/1/2018). PDI Perjuangan secara resmi mengusung Djarot Saiful Hidayat sebagai Bacagub Sumatera Utara, pasangan Jhon Wempi dan Habel Melkias Suwae sebagai bacagub-cawagub Papua, pasangan Herman Hasan Nusi dan Sutono sebagai bacagub-cawagub Lampung, pasangan Abdul Ghani Kasuba dan M Al Yasin Ali sebagai bacagub-cawagub Maluku Utara dan pasangan Tuan Guru Haji Ahyar Abduh dan Mori Hanafi sebagai bacagub-cawagub Nusa Tenggara Barat pada Pilgub 2018. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing mengapresiasi keputusan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, menduetkan Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Pangaribuan Sitorus di Pilgub Sumatera Utara (Sumut) 2018.

"Pasangan Djarot dan Sihar ini sangat bagus untuk memimpin Sumut lima tahun kedepan," ujar Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner kepada Tribunnews.com, Minggu (7/1/2018).

Menurut Sihar, pasangan Djarot dan Sihar ini sangat klop dan bisa diterima masyarakat Sumut. Apalagi kalau melihat dari latar belakang budaya kedua sosok yang akan diusung PDIP ini, yakni Djarot dari Jawa dan Sihar dari Tapanuli.

Baca: Jauh-Jauh Naik Motor Nganjuk-Semarang Demi Kenalan di Facebook, Gadis ini Alami Kejadian Pahit

"Berdasarkan data yang saya peroleh, dari aspek jumlah penduduk di Sumut, suku berlatar belakang Jawa mencapai 35 persen. Sedangkan Tapanuli bisa mencapai 30 persen," jelas Emrus.

"Dengan kata lain, dari sudut homogenitas, Pasangan calon Djarot-Sihar, dengan pemilih di Sumut, bisa mencapai sekitar 65-75 persen. Jika dilihat dari sebaran budaya," tambahnya.

Menurutnya, angka tersebut menjadi modal penting bagi Paslon Djarot-Sihar berlaga dalam Pilkada Sumut 2018. Karena, bagaimana pun perilaku politik tidak bisa dilepaskan dari sudut homogenitas dari pemilih dengan paslon.

"Ini bukan persoalan SARA. SARA yang salah dalam konteks kampanye adalah dari sisi negatif. Sedangkan homogenitas dari sudut yang positif, karena kebiasaannya, orang memilih karena memiliki kedekatan homogenitas atau kesamaan budaya dengan pilihannya," jelasnya.

Selain itu, tegas Emrus, sosok Djarot sudah dikenal secara nasional sebagai tokoh nasionalis dan pluralis.

"Saya pikir Sumut sangat terkenal sebagai daerah yang sangat pluralis, Sehingga tidak terlalu sulit bagi warga Sumut untuk menerima mantan Gubernur DKI Jakarta itu sebagai cagub," imbuhnya.

Ditambah lagi sosok Sihar, dia melihat sebagai tokoh yang sangat dikenal dan diterima masyarakat dari subetnis yang ada di Sumut.

Lebih lanjut modal kuat yang dimiliki pasangan ini adalah sosok Djarot yang sangat terkenal pro rakyat. Apalagi jika melihat karier Djarot mulai dari Wali Kota Blitar, Wakil Gubernur dan Gubernur DKI Jakarta.

"Sangat terkenal beliau adalah tokoh yang memang mempunyai program-program pro kerakyatan," tegasnya.

Bahkan ia menjelaskan, Djarot dan keluarganya terkenal sebagai tokoh yang sederhana dan menggunakan jabatan sebagai amanah untuk kepentingan rakyat.

Keunggulan Djarot pun menurutnya, disempurnakan dengan kehadiran Sihar sebagai putera daerah dan terkenal sebagai tokoh yang rendah hati meskipun ia putera mendiang DL Sitorus.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved