Rabu, 6 Mei 2026

Berjuang 10 Tahun, Kopi Asal Situbondo Akhirnya Tembus Pasar Internasional

Waroeng Kopi Kayu Mas merupakan unit usaha ekonomi pedesaan yang berasal dari perkebunan kopi Kayumas di Situbondo

Tayang:
Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Sanusi
Glery
Waroeng Kopi Kayu Mas merupakan unit usaha ekonomi pedesaan yang berasal dari perkebunan kopi Kayumas di Situbondo 

TRIBUNNEWS.COM, KUALA LUMPUR - Ajang Archipelago Exhibition (Archex) 2018 di Negara Malaysia dimanfaatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan unit usaha ekonomi pedesaan memasarkan produk ke pasar luar negeri.

Sebanyak 115 BUMDes dan unit usaha ekonomi pedesaan berpartisipasi pada kegiatan yang berlangsung mulai Selasa (3/4/2018). Salah satu diantaranya, yaitu Waroeng Kopi Kayu Mas.

Waroeng Kopi Kayu Mas merupakan unit usaha ekonomi pedesaan yang berasal dari perkebunan kopi Kayumas di Situbondo, Jawa Timur. Usaha produksi kopi itu sudah dilakukan sejak 2008.

Namun, selama ini, Didik Suryadi, selaku sekretaris kelompok tani di perkebunan kopi itu merasa kesulitan untuk pengembangan unit usaha tersebut.

Praktis, setelah berdiri selama 10 tahun, Waroeng Kopi Kayu Mas hanya dapat mengembangkan usaha secara terbatas di Situbondo, di mana sampai saat ini sudah ada empat cabang kedai kopi.

"Kami mau kemana? Bagaimana untuk akses ini? Akses event. Potensi (kopi,-red) besar," tutur Didik, saat memasarkan kopi ditemui di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia Untuk Negara Malaysia, di Kuala Lumpur, Selasa (3/4/2018).

Padahal, kata dia, unit usaha itu menjual kopi yang dapat bersaing dengan kopi-kopi dari daerah ataupun negara lain. Selama proses produksi, menurut dia, sembilan kelompok tani yang ada melakukan budidaya kopi secara sendiri.

Dia menjelaskan, kelompok tani itu mengelola lahan seluas 1.500 hektar, di mana 80 persen ditanami kopi jenis Arabica dan 20 persen Kopi Robusta. Setelah mengelola lahan sebagian ada yang dipasarkan ke daerah lain ada juga yang di jual di warung kopi wilayah Situbondo.

Untuk harga, dia menilai, lebih murah dibandingkan yang dijual di kota-kota besar. Di wilayah sekitar perkebunan, kata dia, kopi dijual seharga Rp 150 ribu per kilogram.

Apabila kopi dijual dalam bentuk olahan, dia melanjutkan, per cangkir hanya membutuhkan 100 gram kopi. Sehingga, jika dibuat 100 cangkir maka dijual seharga Rp 5000 per cangkir, sudah mendapatkan untung.

"Terus terang, walaupun kami di desa, kegiatan seperti ini menambah nilai ekonomi yang ada di desa," kata dia.

Selama ini, dia mengeluhkan perhatian yang minim dari pemerintah. Untuk kegiatan proses produksi kopi itu dilakukan secara pribadi para warga desa mulai dari pemberdayaan kopi sampai tahapan penyajian.

Sehingga, akhirnya Kementerian Desa menetapkan produk unggulan desa (Prudes) kepada desa tersebut.

"Dengan modal sama kemampuan sama kami kembangkan. Ke depan semakin dikembangkan kopi akan meningkatkan paling tidak perekonomian yang ada di desa. Harapan buka 1.000 cabang," tambahnya.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia berupaya memasarkan produk-produk domestik ke luar negeri. Malaysia menjadi salah satu negara tujuan eksport produk-produk tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved