Breaking News:

Sekitar 2.000 WNI Masih Berada Di Suriah Usai Serangan Irak Terhadap ISIS

"Sampai saat ini masih ada sekitar 2.000 WNI. Sebagian besar yang masuk ke sana memang masuk secara tidak legal,"

Penulis: Gita Irawan
Editor: Adi Suhendi
Rina Ayu/Tribunnews.com
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Gita Irawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan setelah serangan udara Irak terhadap ISIS, Kamis (9/4/2018) di Suriah masih ada sekitar 2.000 Warga Negara Indonesia (WNI) yang masih berada di Suriah.

Arrmanatha mengatakan bahwa sebagian besar WNI yang masuk ke Suriah tersebut masuk lewat jalur ilegal.

Baca: Setya Novanto Bersedia Jadi Saksi Untuk Perkara Bimanesh Usai Putusan Vonis Dirinya

"Sampai saat ini masih ada sekitar 2.000 WNI. Sebagian besar yang masuk ke sana memang masuk secara tidak legal," kata Arrmanatha di Gedung Palapa Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Jumat (20/4/2018).

Armanatha juga mengatakan bahwa kebanyakan dari WNI tersebut berada di Suriah untuk bekerja.

"Kebanyakan di sana mereka bekerja, ada yang sebagai PRT dan sebagainya," kata Arrmanatha.

Baca: Akui PPP Diajak Gabung Gerindra, Arsul Sani: Itu Opsi Bercandaan Saja

Ia mengatakan bahwa Kementerian Luar Negeri telah mengeluarkan Travel Warning ke Suriah.

"Kemlu juga telah mengeluarkan travel warning untuk tidak berkunjung ke Suriah," kata Arrmanatha.

Armanatha mengatakan bahwa aebelum serangan udara terjadi, pihak Kemlu telah berkomunikasi kepada para WNI yang berada di sana sejak Sabtu (14/4/2018) untuk memanfaatkan hotline yang ada di KBRI Damaskus dan Kemlu.

Baca: Jaksa KPK Masih Agendakan 10 saksi untuk Terdakwa Dokter Bimanesh dan Fredrich

"Jadi sebelum adanya kejadian kemarin hari Sabtu, KBRI pun sudah berkomunikasi dengan para WNI dan kita telah meminta para WNI untuk memanfaatkan hotline baik yang ada di KBRI Damaskus maupun di Kemlu sendiri," kata Arrmanatha.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved