Rabu, 8 April 2026

Pilkada Serentak

Cara-cara Ini Harus Dilakukan Partai untuk Dongkrak Elektabilitas

tercatat ada 5 partai yang tidak mampu menembus batas minimal Parliamentary Threshold Pemilu 2019

Penulis: Rizal Bomantama
Editor: Sanusi
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Ardian Sopa memaparkan hasil survei terbaru yang dilakukan terkait Pilkada DKI Jakarta, di kantor LSI, Jakarta, Selasa (20/12/2016). Hasil survei tersebut menyatakan Agus Harimurti Yudhoyono dan Ahok berpeluang masuk keputaran kedua Pilkada DKI dan dimenangkan oleh Agus Harimurti Yudhoyono dengan hasil 46,1 persen sedangkan Ahok sebesar 29,1 persen. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dirilis Selasa (8/5/2018), tercatat ada 5 partai yang tidak mampu menembus batas minimal Parliamentary Threshold Pemilu 2019 dan enam partai yang memiliki elektabilitas di bawah satu alias nol koma.

Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa mengungkapkan beberapa cara agar partai-partai tersebut mendongkrak elektabilitas sehingga bisa menjaga asa menempatkan wakilnya di parlemen.

Baca: Kronologi Runtut Kerusuhan di Mako Brimob, dari Pukul 21.30 hingga saat Mobil Pejabat Berdatangan

“Yang pertama yang harus dilakukan adalah berasosiasi kuat dengan capres yang kuat, memiliki program populer yang dikenal luas, tidak terkait skandal, dan public expose isu positif partai secara masif dan terstruktur,” ungkapnya di Rawamangun, Jakarta Timur.

Ia juga menyampaikan alasan kenapa partai-partai itu diramalkan akan sulit menembus Senayan.

“Pertama Hanura elektabilitas anjlok karena adanya isu perpecahan, tidak memiliki program populer yang dikenal luas, dan tidak terasosiasi kuat dengan capres kuat. Kemudian PSI ditinggal pemilih antikorupsi karena blunder kasus Sunny Tanuwijaya, PBB tidak cukup publikasi menarik perhatian massa Islam yang menjadi basisnya, serta PKPI, Partai Garuda, dan Partai Berkarya tak terdengar kiprahnya,” imbuhnya.

Empat cara itu menurut Ardian Sopa juga perlu dilakukan PAN, PKS, PPP, Partai Nasional Demokrat, dan Perindo untuk tingkatkan elektabilitas.

“Tapi untuk Perindo sebagai partai baru berada di divisi menengah bersama PAN, PKS, PPP, dan Nasdem adalah hal bagus,” pungkasnya.

Dalam survei elektabilitas partai politik jelang Pemilu 2019, LSI Denny JA memetakan partai menjadi empat divisi berdasarkan perolehan suara hasil pemilu itu.

“Yang pertama adalah divisi utama di mana ada tiga partai yang memperoleh suara di atas 10 persen dalam survei yang kami lakukan 28 April - 5 Mei 2018 yaitu PDI Perjuangan (21,70 persen), Partai Golkar (15,30 persen), dan Partai Gerindra (14,70 persen).”

“Sementara dua partai menempati divisi menengah yang mendapat suara di bawah 10 persen tapi di atas 4 persen yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (6,20 persen) dan Partai Demokrat (5,80 persen). Secara angka lima partai itu yang akan lolos ke Senayan,” ungkap peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa di markas LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta Timur.

Lalu ada lima partai yang mendapatkan suara di bawah empat persen yaitu PAN (2,50 persen); Nasional Demokrat (2,30 persen); Perindo (2,30 persen); PKS (2,20 persen); dan PPP (1,80 persen).

“Dan divisi terbawah yaitu kami namakan divisi nol koma ada enam partai yaitu Hanura (0,70 persen); PBB (0,40 persen); Partai Garuda (0,30 persen); PKPI (0,10 persen); PSI (0,10 persen); dan Partai Berkarya (0,10 persen),” imbuhnya.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved