Senin, 13 April 2026

Harga Plastik Melejit

Harga Plastik Melonjak Drastis, Legislator PKB: Ancaman Nyata Bagi Keberlangsungan Usaha Kecil

Krisis bahan baku plastik dipicu konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026.

Penulis: Reza Deni
Tribunnews.com/Lita Febriani
PLASTIK MAHAL - Harga plastik mulai merangkak naik sejak sebelum Lebaran 2026. Plastik dan toko penjualan plastik di Pasar Musyawarah, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (3/4/2026). Anggota Komisi VII DPR RI, Kaisar Abu Hanifah, menyoroti lonjakan harga bahan baku plastik yang disebut telah menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah. 

 

Ringkasan Berita:
  • Anggota Komisi VII DPR RI, Kaisar Abu Hanifah, menyoroti lonjakan harga bahan baku plastik yang disebut telah menekan pelaku UMKM di berbagai daerah.
  • Kenaikan harga yang mencapai 30 hingga 100 persen dalam beberapa pekan terakhir dinilai telah mendorong banyak pelaku usaha ke kondisi “survival mode” atau bertahan hidup.
  • Krisis bahan baku plastik dipicu konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI, Kaisar Abu Hanifah, menyoroti lonjakan harga bahan baku plastik yang disebut telah menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.

Kenaikan harga yang mencapai 30 hingga 100 persen dalam beberapa pekan terakhir dinilai telah mendorong banyak pelaku usaha ke kondisi “survival mode” atau bertahan hidup.

Baca juga: Menperin Siapkan LPG Alternatif Pengganti Nafta untuk Bahan Baku Plastik

“Ketika jalur distribusi global terganggu, UMKM kita langsung terpukul. Kenaikan harga plastik hingga dua kali lipat bukan sekadar angka, tetapi ancaman nyata bagi keberlangsungan usaha kecil,” ujar Kaisar, Rabu (8/4/2026).

Menurut Legislator PKB itu, krisis bahan baku plastik dipicu konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026.

Kondisi tersebut berdampak pada terganggunya distribusi bahan baku melalui Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital pasokan energi dan bahan baku industri global.

Padahal, Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku plastik dari kawasan Timur Tengah.

Data yang dihimpun menunjukkan, harga plastik rata-rata naik hingga 50 persen, bahkan pada beberapa jenis mencapai 100 persen.

Lonjakan ini turut dipicu kenaikan harga nafta—bahan baku utama plastik—yang melonjak dari sekitar US$630 per ton menjadi US$917 per ton dalam waktu kurang dari dua bulan.

Dampak kenaikan harga sudah dirasakan langsung pelaku UMKM. Di Salatiga, omzet usaha minuman dilaporkan turun hingga 40 persen.

Baca juga: Keluh Kesah Pedagang Es Terdampak Kenaikan Harga Plastik Akibat Perang AS-Israel dan Iran

Sementara itu, pelaku usaha keripik harus menanggung kenaikan biaya kemasan dari Rp34.000 menjadi Rp50.000 per unit, yang menggerus margin keuntungan hingga 20 persen.

Kaisar menilai kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Dia memperingatkan, tanpa intervensi cepat, krisis dapat meluas dan melemahkan daya tahan UMKM nasional.

Kaisar pun mendesak pemerintah, khususnya Kementerian UMKM, untuk segera mengambil langkah mitigasi serta memperkuat koordinasi lintas kementerian, termasuk dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan.

“Ini bukan hanya soal harga bahan baku, tetapi soal keberlangsungan jutaan pelaku UMKM. Pemerintah harus hadir dengan langkah konkret, bukan sekadar menunggu pasar pulih,” tandas Kaisar.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved