Breaking News:

Analisa yang Tendensius, Kasar, dan Tidak Fair

Menuduh sebuah institusi pers membantu terorisme sama saja dengan sikap sekelompok orang yang menuduh polisi melakukan rekayasa terkait aksi terorisme

freelancewriting.com
Ilustrasi 

Itu juga merupakan informasi untuk memberitahu masyarakat, pelaku teroris tidak harus menggunakan atribut dan punya stereotip tertentu. Mereka bisa saja hidup di tengah masyarakat biasa dan berpenampilan apa saja. What’s wrong?

Berita ini pun dipublikasikan oleh media massa lainnya tetapi kenapa penulis hanya mendiskreditkan Tribunnews.com?

Mengenai selebrita menjadi narasumber kasus terorisme. Semua orang, termasuk, selebriti dan public figure, punya hak untuk menyatakan opininya.

Siapapun bisa menjadi korban aksi terorisme, termasuk artis dan selebriti. Teori mana yang menyebutkan mereka tak boleh diwawancarai untuk kasus serius semacam teror bom?

Dalam konteks ini artis Ahmad Dhani, juga punya hak untuk berpendapat.

Apalagi Ahmad Dhani pernah menjadi sasaran kelompok teroris yang mengirim bom buku ke rumah pribadinya di kawasan perumahan Pondok Indah, Jakarta, 17 Maret 2011.

Bom itu kemudian diledakkan di sebuah tanah kosong dekat rumah Ahmad Dhani.

Bahwa Ahmad Dhani punya pendapat yang berbeda dengan pendapat mainstream mengenai teror bom yang terjadi saat ini, itu soal lain. Jadi apa yang tidak relevan?

Kami tidak antikritik namun tulisan Muhammad Heychael sama sekali tidak proporsional, tendensius, tidak didasari tabayyun, dan cenderung menyesatkan.

Heychael menyebut media daring sering terburu-buru dan tidak akurat, namun dia sendiri juga menulis analisa yang terburu-buru dan tidak fair. Apalagi dia menyebut dirinya sebagai peneliti.

Halaman
1234
Penulis: Dahlan Dahi
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved