Breaking News:

Pilpres 2019

Pengamat: Bagi Generasi Milenial, Sosok AHY Lebih Menjual

AHY terbantu oleh mesin Partai Gerindra yang sudah memiliki investasi elektoral sebanyak 10 persen.

Tribunnews.com/ Fransiskus Adhiyuda
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di RSPAD Gatot Subroto, Rabu (18/7/2018). 

Laporan Reporter Tribunnews, Willy Widianto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Merujuk pertemuan politik antara Prabowo dan SBY di Mega Kuningan, Selasa lalu sejatinya calon presiden dan calon wakil presiden dari koalisi Gerindra sudah mengerucut.

Duet Prabowo-AHY kemungkinan yang akan diusung karena dinilai paling menjual.

"Kalau saya melihat Prabowo-AHY lebih menjual. Artinya bisa menjadi lawan tanding yang sebanding jika head to head dengan Jokowi dan pasangannya," ujar Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago dalam pernyataannya, Jumat(27/7/2018).

Prabowo-AHY, kata Pangi juga dianggap duet paling masuk akal karena AHY seorang anak muda.

Baca: SBY, Playmaker Pembentukan Koalisi di Luar Jokowi

Berbanding lurus dengan keberadaan 40 persen atau 80 juta pemilih di pemilu adalah milenial atau berusia 17 sampai 38 tahun.

Baca: Seri Terbaru Scania New Truck Generation Tak Masalah Mengasup Solar Kotor

"AHY memiliki racikan elektoral yang tinggi. Dia tertinggi sebagai cawapres berdasarkan hasil sejumlah survei, bahkan mengalahkan Pak JK. Pak SBY juga punya pengalaman langsung di pemerintahan, jadi mentornya nanti bisa langsung Pak SBY," jelasnya.

Di samping itu, lanjut Pangi, AHY terbantu oleh mesin Partai Gerindra yang sudah memiliki investasi elektoral sebanyak 10 persen.

"Itu akan menggerakkan AHY. Dan tak kalah penting, AHY juga intelektual. Itu penting untuk menjadi pertimbangan Prabowo," tutupnya.

Lebih jauh Pangi menjelaskan partai Gerindra bisa rugi dua kali jika Prabowo Subianto menyerahkan tiket calon presiden kepada orang lain.

Suara Gerindra jeblok di pemilu legislatif dan calon yang diusung Gerindra kalah di Pilpres mendatang.

Karena itu, Prabowo wajib maju kembali sebagai capres untuk mengangkat elektabilitas Gerindra di Pileg, sekaligus menggandeng calon wakil presiden untuk bersaing dengan Jokowi di Pilpres.

"Itulah efek ikutan yang tidak bisa dinafikkan. Prabowo adalah figur yang diharapkan bisa menaikkan suara Gerindra. Apalagi bila Prabowo mengambil calon dari PAN, PKS atau Demokrat akan dapat dua-duanya. Itulah kenapa nuansa kebatinan mereka mengharapkan Prabowo maju (Pilpres)," kata Pangi.

Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved