Sidang PK, Jero Wacik Geram Disebut Pemeras oleh Abraham Samad

Selama hidupnya, Jero Wacik mengklaim dia tidak pernah hidup berfoya-foya seperti apa yang dituduhkan oleh Abraham Samad.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Terpidana kasus dana operasional menteri (DOM) Jero Wacik menjalani sidang peninjauan kembali di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (23/7/2018). Mantan Menteri ESDM tersebut mengajukan Peninjauan Kembali (PK) setelah divonis divonis delapan tahun penjara oleh Mahkamah Agung di tingkat kasasi. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (6/8/2018) kembali menggelar sidang lanjutan permohonan Peninjauan Kembali (PK) Jero Wacik.

Sidang ini merupakan sidang kedua, dimana sebelumnya sidang perdana telah digelar pada Senin (‎23/7/2018) minggu lalu.

Pantauan Tribunnews.com, di sidang kali ini, Jero Wacik yang menggunakan kemeja batik lengan panjang membacakan sendiri point-point PK dan apa novum baru yang diajukan.

Diantaranya, Jero Wacik sempat menyinggung soal pernyataan eks pimpinan KPK, Abraham Samad yang sempat memberikan pernyataan di media bahwa Jero Wacik seorang pemeras dan gemar hidup mewah.

"‎Novum kelima, pimpinan KPK dalam hal ini Pak Abraham Samad menyebut di beberapa media pada 4 September 2014 bahwa Jero Wacik memang adalah orang yang suka memeras, hidup foya-foya," kata Jero Wacik.

Dia menegaskan hal itu sama sekali tidak benar. Selama hidupnya, Jero Wacik mengklaim dia tidak pernah hidup berfoya-foya seperti apa yang dituduhkan oleh Abraham Samad.

"Saya bantah, saya tidak pernah hidup foya-foya, tidak pernah memeras orang. Saya orang miskin memang tapi tidak pernah saya memeras orang. Sejak kecil, remaja, mahasiswa dan sekarang, tidak pernah model saya memeras orang. Saya bantah itu karena menyerang pribadi saya," tegas Jero Wacik.

Atas bantahan itu, Jero Wacik mengaku akan memberikan lampiran beberapa berita yang mengutip pernyataan Abraham Samad ke majelis hakim.

Diketahui Jero Wacik mengajukan ‎permohonan PK terhadap putusan MK RI, putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

"PK ini saya ajukan karena adanya kekhilafan hakim dan kekeliruan nyata dalam peradilan baik di pengadilan negeri dan terutama kekhilafan hakim di Mahkamah Agung.‎ Juga adanya 10 novum yang akan kami ajukan," ucap Jero Wacik.

Sebelumnya Jero wacik dihukum pidana penjara selama 4 tahun di pengadilan tingkat pertama. Karena hukuman Jero wacik lebih ringan dibanding tuntutan jaksa yakni 9 tahun penjara, jaksa akhirnya mengajukan banding.

Namun permohonan banding jaksa KPK ditolak Pengadilan Tinggi Jakarta. Alhasil Jero Wacik tetap dihukun 4 tahun dan jaksa KPK mengajukan kasasi.

Di Mahkamah Agung (MA), kasasi yang diajukan jaksa penuntu umum dikabulkan akhirnya hukuman Jero Wacik malah diperberat menjadi 8 tahun penjara.

Jero dinilai terbukti menggunakan dana operasional menteri untuk kepentingan pribadi dan keluarga termasuk untuk pencitraan di sebuah surat kabar mencapai Rp 3 miliar.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved