KPK: Sofyan Basir Kasih Uang ke Bowo Sidik untuk Pengisian Jabatan di BUMN

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai menguak sumber-sumber gratifikasi yang diterima Anggota Komisi VI Fraksi Golkar Bowo Sidik

KPK: Sofyan Basir Kasih Uang ke Bowo Sidik untuk Pengisian Jabatan di BUMN
Tribunnews/Irwan Rismawan
Anggota DPR RI nonaktif, Bowo Sidik Pangarso memberikan kesaksian dalam sidang kasus suap terkait kerja sama pengangkutan pupuk dengan terdakwa Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (26/6/2019). Dalam sidang tersebut Jaksa Penuntut Umum KPK menghadirkan sejumlah saksi di antaranya anggota DPR RI nonaktif, Bowo Sidik Pangarso yang juga merupakan tersangka dalam kasus tersebut. Tribunnews/Irwan Rismawan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ilham Rian Pratama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai menguak sumber-sumber gratifikasi yang diterima Anggota Komisi VI Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso.

Salah satunya ialah terkait pengisian posisi jabatan seseorang di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Diketahui salah satu mitra kerja Komisi VI DPR adalah perusahaan-perusahaan BUMN.

Maka dari itu, hari ini KPK memeriksa mantan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir. Sofyan yang merupakan terdakwa korupsi proyek PLTU Riau-1 diduga terlibat dalam perkara gratifikasi Bowo Sidik. Terlebih PLN merupakan salah satu perusahaan BUMN.

"Yang didalami (dari Sofyan Basir) adalah pengetahuan di PLN sebagai direktur utama, apa yang dia ketahui terkait dengan sumber gratifikasi BSP ini," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung Merah Putih KPK, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (27/6/2019).

Baca: Pascaputusan MK, KPU RI Bakal Langsung Gelar Rapat Pleno

Baca: 4 Tempat Belanja Oleh-oleh Murah di Singapura

Baca: Australia Konfirmasi Gandeng Indonesia Ajukan Diri Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2034

Namun ketika dikonfirmasi lebih jauh apakah Sofyan memberikan gratifikasi ke Bowo, Febri belum bisa menyampaikan. Katanya, hal tersebut bakal dikuak saat proses persidangan.

"Kalau pemberi gratifikasinya persisnya siapa, itu belum bisa kami sampaikan, karena itu kan (masih) proses penyidikan. Nanti kalau sudah diproses persidangan baru akan kami tuangkan," jelasnya.

"Karena dalam proses penyidikan ini kan harus diuji dengan bukti lain, dan proses pemeriksaan saksi harus kami lakukan secara intens, karena itu harus ada unsur saksi dari BUMN, Sofyan Basir misalnya," imbuh Febri.

Selain mencari tahu pemberi gratifikasi ke Bowo, lewat Sofyan, tim penyidik KPK juga menelisik mekanisme pemberian gratifikasi. "Jadi untuk menelusuri arus uangnya, bukan sekadar siapa pemberinya, tapi waktunya kapan, prosesnya bagaimana, dan informasi-informasi lain, khususnya terkait hubungan jabatan penerima," ucap Febri.

Saat ingin dipertegas oleh pewarta apakah BUMN yang dimaksud adalah PLN, Febri tak bisa memberi tahu. "Saya kira informasi yang saya sampaikan cukup yang tadi dulu saja."

Halaman
12
Penulis: Ilham Rian Pratama
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved